Diskusi Bagian 4

Halaman Diskusi Bagian 4 ini merupakan lanjutan dari halaman Diskusi Bagian 3  Tanya♥Jawab-2. Halaman ini dibuat karena komentar pada halaman sebelumnya sudah cukup banyak sehingga membuat lambat saat page loading.

TeknisiInstrument  mengucapkan terima kasih kepada para pengunjung atas perhatian dan kontribusi dalam blog ini.

Saran: Jika ingin menuliskan bahan diskusi atau bertanya, ada baiknya mencari topik yang ingin ditanyakan pada posting yang sudah ada, siapa tahu pernah didiskusikan di posting tersebut.

Untuk itu, jika ada hal yang ingin didiskusikan, pembaca bisa menulis komentar di halaman ini.

Selamat berkomentar.

Salam,

TeknisiIstrument

163 thoughts on “Diskusi Bagian 4

  1. fremnagar situmorang

    dear pak ade,
    saya baru didunia instrument pak,
    1.saya mau tanya, klw hartcom 475 gk bs masuk online ke device Pressure transmitter itu masalah nya dimana ya pak. tp ada jg device yg sama bs online. merk nya rosemount. Apakah mengkalibrasi PT cuman hanya mengubah parameter URV/LRV aja ?
    2. apa device transmitter ada adjust nya atau settingan nya.
    3.terminal di device PT apa aja ya pak, apakah output 24VD dan output sinyal 4-20MA ? klw yg 3 wire dan 4 wire apa aja ya pak?
    dan saya minta tolong penjelasan sistem kerja device PT sampai ke PLC,HMI. thanx pak ade

    salam hormat,
    fremnagar situmorang

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Pak Fremnagar Situmorang,
      Salam kenal Pak.
      1. Yakinkan kalau transmitter-nya memiliki fitur HART, bisa dilihat di manual book transmitter bersangkutan, apakah sudah hart enabled atau belum.

      HART memerlukan impedansi loop di atas 250 ohm, yakinkan tidak dibawah itu.

      Transmitternya merk dan tipe apa?

      Apakah sudah lihat di manual book transmitter yang bersangkutan, mengenai cara menghubungkan HART communicator ke transmitter tersebut?

      Coba periksa, apakah dd file untuk transitter yang bersangkutan sudah ada di dalam database HART COMM 475?:

      Caranya:

      · Dari menu utama HART, double tap “Utility”

      · Kemudian double-tap “Availabel Device Desctiption”

      · Cari manufacturer dari transmitter bersangkutan.

      · Jika tipe dari transmitter tidak terdapat dalam list, berarti DD file-nya belum ada. Silakan download, caranya bisa dilihat di manual HART Communicator 475, manual bisa didownload di sini: http://www2.emersonprocess.com/siteadmincenter/PM%20Asset%20Optimization%20Documents/ProductReferenceAndGuides/475_ru_usermanual.pdf

      2. Mengenai terminal di transmitter, tergantung transmitternya apakah 2 wire, 3 wire atau 4 wire. Bisa dilihat di manual book-nya, fungsi masing2 terminal.

      Umumnya transmitter menggunakan 2 wire, 24VDC power supply membawa sinyal arus 4-20mA.

      Mengenai hubungan transmitter-PLC-HMI, insya Allah nanti saya buat artikel di blog https://www.teknisiinstrument.com Tunggu aja…

      Mohon maaf tidak bisa membantu banyak.

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  2. fremnagar situmorang

    maaf pak saya mau bertanya lagi,
    1.klw hart 475 gk bs online ke positioner DVC6000 trobel nya dimana ya pak ?
    power 24VDC ok, apakah direlay nya kah ?
    2. klw vessel air instrument supply pakai Dif.Pres atau Pres.Trasmitter ?

    salam,
    Fremnagar s

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Pak Fremnagar Situmorang,
      Salam kenal Pak.

      1. Apakah sudah dicoba untuk menghubungkan HART comm pada saat sinyal arus di beberapa titik? misalnya coba beri sinyal 8mA atau yang lainnya. Kemudian coba koneksikan lagi dengan HART.

      Apakah sudah dicoba loop power-nya dari sigal injector (4-20mA) saat menghubngkan HART comm?

      Mungkin bisa dicoba untuk diperksa tegangannya. Mengenai caranya, bisa dilihat di manual book pada link berikut, lihat halaman 7-14 s/d 7-15 (116-117).
      http://www.documentation.emersonprocess.com/groups/public/documents/instruction_manuals/d102794x012.pdf

      2. Jika kita ingin mengukur tekanan instrument air yang berada pada vessel tersebut, maka kita gunakan pressure transmitter. Jika kita ingin mengukur perbedaan tekanan antara dua titik, maka kita gunakan differential pressure transmitter.

      Salam,
      TeknsInstrument

      Reply
      1. Fremnagar

        Maaf pak maksud saya LNG dan CNG , dan sistem kerja gilycol

        Reply
  3. fremnagar situmorang

    salam kenal, Teman2 Teknisi Instrument
    mohon penjelasan nya

    1.saya mau tanya, klw hartcom 475 gk bs masuk online ke device Pressure transmitter itu masalah nya dimana ya pak. tp ada jg device yg sama bs online. merk nya rosemount,
    2.apakah mengkalibrasi Pres Transmitter hanya mengubah parameter URV / LRV nya sajakah ?
    3.apa device transmitter ada adjust nya atau settingan nya.
    4.terminal di device PT apa aja ya pak, apakah output 24VD dan output sinyal 4-20MA da untuk 3 wire dan 4 wire ?
    dan saya minta tolong penjelasan sistem kerja device PT sampai ke PLC,HMI. thanx pak ade

    salam hormat,
    fremnagar situmorang

    Reply
      1. yodie sidabutar

        salam kenal, teman2 teknik instrument
        perkenalkan nama saya yodie sidabutar, mahasiswa teknik perminyakan.

        saya mau belajar tentang orifice meter untuk pengukuran flowmeter gas.
        kebetulan saya sedang ambil judul ttg perhitungan dan analisa perbandingan flowmeter gas(orifice meter) metode square root dan metode AGA3.
        mohon bimbingannya, untuk penjelasan yang simple mengenai perhitungan AGA3, dan penjelsan mengenai selisih error metode diatas.

        salam
        terima kasih

        Reply
  4. teknisiinstrument Post author

    Di sebuah posting, ada pengunjung yang mengajukan sebuah bahan diskusi pada link berikut:
    https://www.teknisiinstrument.com/2016/02/26/instrument-isolation-valve-bagian-1/#comment-1271

    Bahan diskusinya adalah:

    selamat siang gan, maaf kalau coment nya kurang nyambung dengan materi postingan. saya mau nanya masalah k factor pada flowmeter. maksutnya k-factor itu apa ya?.terus juga pada pengukuran flow dengan differential pressure transmitter apakah harus menggunakan squer root atau tidak?. kenapa menggunakan squere root?..

    terima kasih sebelumnya …

    Karena bahan diskusinya kurang berhubungan dengan postingan tersebut, sehingga bahan diskusi tersebut dipindahkan ke sini.

    Respon:

    1. Mengenai k-factor, pernah ada diskusi mengenai masalah ini, silakan ikuti link berikut:
    https://www.teknisiinstrument.com/qa/tanya%e2%99%a5jawab-3/#comment-1224

    2. Untuk pengukuran flow dengan differential pressure transmitter, jika untuk keperluan pengukuran untuk mendapatkan flowrate (misalnya mass flow, actual flow atau standard flow), di-squareroot-kan atau tidaknya output dp transmitter tergantung dari flow computer (atau DCS)-nya. Kita bisa mengacu kepada buku panduan dari flow computer atau DCS yang digunakan.
    Jika dp transmitter tersebut dipakai sebagai pengukur flow untuk sebuah loop control, juga tergantung controller-nya, jika (misalnya) di dalam DCS/PLC-nya sudah ada fasilitas meng-squareroot-kan, maka di transmitter-nya tidak perlu. Dan jika pada controller tidak ada fasilitas squareroot, maka transmitter-nya di-squareroot-kan.

    Mengapa ada square-root? Karena flow berbanding dengan dp pada sensing element (misalnya orifice) dengan hubungan akar kuadrat (bukan berbanding lurus/linear). Untuk merepresentasikan flow terhadap sinyal yang dikeluarkan dari transmitter, maka sinyal yang dikeluarkan tersebut harus di akar-kan (square-root)

    Ada bacaan bagus mengenai pengukuran flow:
    http://www2.spiraxsarco.com/resources/steam-engineering-tutorials/flowmetering.asp

    Mohon maaf jika jawabannya ngelantur.

    Salam,
    TeknisiInstrument

    Reply
  5. fremnagar situmorang

    selamat siang teman Teknik Instrument…!!!
    1.saya mau bertanya proses gas LNC dan CNG.
    2.sistem kerja Glyco

    3.saya pernah melihat vessel air instrument menggunakan Diff press ada juga yang menggunakan PT. apakah di vessel air instrument ada perbedaan tekanan. atau divessel IAS harus ada water ?
    4.apakah mengkalibrasi Pres Trasmitter cuman mengubah parametter URV/LRV
    Contoh: range PT 0-200psi, ternyata saya mau pakai pakai 0-100 psi .apakah saya harus kalibrasi lrv;0 dan urv ; 100 ? mohon penjelasan nya pak. terimakasih

    salam
    fremnagar s

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Selamat siang Pak Fremnagar Situmorang,
      1. Mohon maaf, TeknisiInstrument belum menangani masalah LNC, dan terus terang, tidak tahu apa itu LNC 🙂

      2. Demikian juga dengan Glyco, terus terang, belum pernah menanganinya.

      3. Tergantung dari apa yang mau diukur, jika ingin mengukur tekanan di dalam tangki/vessel-nya, digunakan pressure transmitter, jika ingin mengukur perbedaan tekanan antara dua titik, maka digunakan differential pressure transmitter.

      4. Mengkalibrasi pressure transmitter itu menjadikan pressure transmitter sesuai spesifikasi teknis yang diinginkan, meliputi trimming sensor, URV/LRV dan trimming analog output modulny (jika transmitter-nya elektronik), Betul, jika ada PT dengan range 0-200 akan digunakan untuk mengukur sebuah range 0-100, maka transmitternya harus dikalibrasi 0-100.

      Mohon maaf banyak yang tidak terjawab.

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  6. fremnagar situmorang

    maksud saya LNG dan CNG pak, dan bagaimana sistem kerja gilycol?

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Pak Fremnagar Situmorang,
      Terus terang, TeknisiInstrument belum pernah bekerja di plant LNG ataupun CNG, jadi belum tahu seluk beluknya 🙂

      Mengenai Glycol, apakah TEG atau MEG?
      Apakah glycol yang dimaksud adalah pada sistem dehidrasi (dehydration unit)?
      Jika ya, Secara singkat, Glycol (MEG atau TEG) yang fresh di dibuat kontak dengan gas yang akan didehidrasikan (baik dengan sistem injeksi maupun dengan sistem contactor vessel), kemudian air yang terkandung di dalam gas akan diambil oleh glycol (MEG ataupun TEG), dan glycol yang sudah bercampur/mengandung air, akan dipisahkan dari gas yang dikeringkannya, Kemudian glycol yang sudah bercampur dengan air tersebut akan direbus pada suhu tertentu, sehingga airnya akan menguap, dan glycol-nya akan fresh kembali. Demikian siklus berulang.

      Mohon maaf kalau jawabannya jauh dari yang diharapkan.

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  7. nanda

    terima kasih mas atas jawabannya…. 🙂
    tapi kayaknya semakin puas jawaban semakin pengen nanya nh mas…maklum masih pemula didunia kerja instrumentasi….

    saya mau bertanya lagi nih mas…. untuk flowmeter anobar (pitot prinsip) menghitung flowmass dan debit nya bagaimana ya mas….

    Reply
  8. amar syahidin

    salam kenal ni saya amar mau tanya soal diferensial pressure
    jadi saya mau membuat sebuah rangkaian kontrol menggunakan plc nih, ceritanya saya mau membuka valve dengan otomatis tapi apabila diferensial pressurenya tinggi valve itu akan menutup nah yang mau saya tanyakan:
    1. apa ada sensor di diferensial pressure transmiter untuk menggerakan relai agar valve itu bisa menutup?
    2. atau kita membuat sensornya sendiri?
    3. gimana cara setting diferensial pressurenya?
    itu aja terimakasih sebelumnya

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Pak Amar Syahidin,
      Salam kenal Pak.
      Apakah yang akan dikontrol, apakah tekanan dalam sebuah tangki, atau ketinggian/level cairan di dalam tangki atau apa?
      Dari situ baru kita bisa menentukan sensor apa yang harus dipakai.
      Jika hanya on-off control, mungkin tidak perlu menggunakan pressure transmitter, mungkin bisa hanya dengan menggunakan pressure switch.
      Kalau ada skema (P&ID) mengenai apa saja yang akan dikontrol, mungkin kita bisa diskusikan lagi.

      1. Differential pressure transmitter itu mengeluarkan sinyal analog (umumnya 4-20mA untuk arus, 3-15psi untuk tekanan, 1-5v atau 0-10v untuk tegangan) yang berbanding lurus dengan perbedaan tekanan yang diukurnya. Kalau hanya untuk keperluan relay yang on-off, mungkin bisa menggunakan differential pressure switch.

      2. Tergantung keperluannya, apakah kita ingin mengukur tekanan dan mengeluarkan sinyal analog, atau mengukur tekanan mengeluarkan sinyal of-off. Pemilihan sensor tergantung dari keperluannya Pak.

      3. Apakah setting yang dimaksud untuk differential pressure transmitter atau differential pressure switch, kalau untuk dp transmitter itu harus dikalibrasi Pak.

      Salam,
      TeknisiInstrument.

      Reply
  9. muja

    Ass kang…
    perkenalkan saya muja..
    kerja di pembangkit dan kebetulan bru di bagian instrumen…
    mau nanya ni kang :
    1. Level transmiter deaerator menggunakan diperensial presssure…
    saat unit berjalan normal levelnya normal…
    kmudian saat unit trip,air deaerator terkuras menuju boiler drum dengan cepat…hingga tersisa 600-800 mm..tapi pmbacaan transmitter tetap tinggi sekitar 1300mm…gx bisa sesuai sama yang di lokal..
    terimakasih

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Wa ‘alaikum salam wr. wb.
      Pak Muja, salam kenal.
      Apakah sudah dicoba periksa kalibrasinya? Mungkin ada drift atau pergeseran titik nolnya.
      Apakah koneksi transmitter ke vessel menggunakan remote seal atau langsung dihubungkan dengan tubing atau langsung transmitternya ditempelkan di vessel?
      Apakah sudah di-coba sisi high pressure dari transmitternya di-venting, apakah bacaannya berubah/turun?
      Apakah sebelumnya pernah membaca dengan baik saat level air turun.

      Pertanyaan di atas mungkin akan bisa menentukan langkah troubleshooting selanjutnya.
      Apakah diafram dari sensor transmitter yang sudah kaku, atau kalibrasinya bergeser (drifting), atau analog module dari transmiternya.

      maaf belum bisa membantu banyak 🙂

      Salam,
      TeknisiInstrument.

      Reply
  10. saridjan

    Kang mau nanya sy lgi shutdown plan oil&gas,dlm kalibrasi ESDV merk BIFFI italy di field full open di pcv100,0%.full Close di pcv 0,01%,trus tes di PST terbaca di pcv 68,3%,setelah selesai sy kembalikan ke menu Normal pembacaan di Pcv 0,01% valve close,tpi terbaca juga PST ERROR,yg ditanyakan bgm cara menormalkan PST??,krn sang fitness hanya mencatat time close-open,&bilang krjakan esdv yg lainya dlu,unt trobleshoting pst error nanti tim commosioning,trimks jwbanya,

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Pak Saridjan,
      Salam kenal pak 🙂
      Mohon maaf, TeknisiInstrument tidak familiar dengan singkatan yang ada dalam pertanyaan Bapak. Seperti PCV, PST.
      Apakah yang dimaksud itu alat untuk partial stroke, untuk tujuan pengujian/stroke test?

      Salam,
      teknisiInstrument

      Reply
      1. saridjan

        ya betul kang, PST(partial stroke test),PCV(positioner control valve),dlm pengetesan ESDV ada beberapa yg PST ERROR,bgm caranya menangganinya

        Reply
        1. teknisiinstrument Post author

          Pak Saridjan,
          Apakah ini pemasangan baru? Atau sebelumnya pernah beroperasi dengan benar?
          Jika baru, apakah setiap device sudah dikonfigurasi sesuai kebutuhan dan sesuai petunjuk pada buku manualnya?

          Salam,
          TeknisiInstrument

          Reply
  11. ReSa

    Ass… Pak Ade

    Salam kenal pak..
    Mau ikutan nimbrung tanya pak,, Klo flow transmitter dengan brand Fisher model W 40112 terkadang bisa terbaca di HMI namun terkadang tidak terbaca kira2 gara2 apa ya pak ?
    * In case nya saat hujan turun atau malam hari lebih sering dpt terbaca DPnya sehingga flow nya pun juga terbaca namun saat siang hari lebih cenderung pembacaannya adalah nol..
    Floboss ini memiliki range yg kecil sekali pak, jd ketika DP krg dari 1 tidak akan terbaca,,Kami telah cek dari segi volt yang ada pada transmitter tidak ada masalah, ketika di venting flow dpt terbaca..

    Apakah analisanya terdapat kotoran yang menghambat pada orifice nya pak ? Dikarenakan orificenya terlalu kecil sekitar 1.33 inches… Saat kami drain pada line scrubber terdapat kondensat cukup banyak..

    Mohon pencerahannya pak..

    Salam

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Wa ‘alaikum salam wr. wb.
      Salam kenal kembali.
      Apakah data yang dikirim ke DCS itu melalui sinyal analog 4-20mA atau melalui komunikasi data semisal modbus?
      Jika melalui sinyal analog 4-20mA, coba lakukan loop check dari transmitter ke DCS, mungkin ada interferensi yang mengganggu sinyal.
      Jika melalui komunikasi data, coba lakukan diagnostik, apakah kualitas komunikasi bagus atau kurang bagus.

      Coba lihat di DCS, saat bacaan nol, apakah benar-benar nol atau hanya logic di DCS. Karena ada konfiguras DCS yang menampilkan data nol (atau NaN), jika sinyal yang diterima overrange atau underrange. Coba lihat apakah, overrange atau underrange?
      Jika overrange, kemungkinan transmitter juga membaca overrange. Transmitter overrange bisa disebabkan berbagai hal, bisa benar-benar dp-nya overrange, atau karena kalibrasinya tidak bagus.
      Jika underrange, coba lihat di transmitter, apakah pembacaan dp-nya juga underrange?

      Coba periksa kalibrasinya, apakah masih bagus?
      Periksa juga manifold valve-nya, siapa tahu equaizing valve-nya passing (bocor).

      Lihat juga range dP dari transmitter, kemudian lakukan pengukuran dP antara upstream dan downtream dari orifice, apakah range-nya sudah sesuai? Siapa tahu range transmitter terlalu besar, jadi jika ada bacaan flow yang rendah, cenderung tidak terbaca.

      Jika orifice tersumbat kotoran, kecenderungannya DP-nya akan tinggi (seolah2 membaca flow yang besar).

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
      1. saridjan

        Sebelumnya Esdv sudah beroperasi lama dgn benar dan normal,krn ada pengatian pcv yg lama harus diganti dgn yg baru,sblm pengatian pcv yg lama kita tes dlu esdv normal pst jg normal,setelah diganti yg baru kok jdi error dah di tukar dgn pcv yg lainya dah di konfigurasi hasilnya tetap error,,dri sekian ratus esdv yg dah selesai ada 3 yg pstnya error.apakah ada hubunganya dgn mekanical???

        Reply
        1. teknisiinstrument Post author

          Pak Saridjan,
          Apakah antara stem (atau actuator) valve dengan positioner dan PST dihubungkan dengan mechanical linkage atau dengan contacless hall effect sensor? Jika meggunakan mechanical linkage, coba periksa apakah linkage-nya sudah terpasang dengan benar, Jika positiner-nya electronic/digital, coba lihat actuator setup-nya, apakah sudah benar.

          Salam,
          TeknisiInstrument

          Reply
  12. saridjan

    1) Maaf ya Kang,nanya lgi sy mau kalibrasi di Lab,PT range 0 to 100 bar-g. di data sheet tercatat; service=Lean gas/sales gas,service=Gauge pressure,Type=Diaphragm.pertanyaanya apakah PT tersebut bisa dikalibrasi dgn mengunakan Dead-weight Tester?? ,krn seblmnya dah sy siapkan alat calibrasi itu,tpi setelah QC memberikan data sheet di service unt gas,sy jdi ragu apa tidak rusak PT mendpt tekanan oil???
    2) FT range di namplate -5000 to 5000mmH2O,list terahir report calibrasi bawaan dri Trasmiter -5000 to 5000mmH2O,di data sheet yg dikasih QC tercatat; Service Lean gas/sales gas..Service=Differential Pressure Flow,Type=Diaphragm,RANGE= 0 to 5000 mmH2O,yg sy tanyakan,unt kalibrasi di LAB range yg mn yg hrs diikuti yg dri nmplat(-5000 to 5000mmH2O) atau dri data sheet QC(0 to 5000mmH2O).trimks sekali jwbannya Kang.

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Pak Saridjan,
      1. “Service” pada datasheet menunjukkan transmitter tersebut digunakan untuk lean gas atau gas bersih atau gas kering. Coba lihat di manual book-nya, sensor modul-nya kompatibel dengan zat apa saja. Karena belum tentu transmitter terebut dirancang hanya untuk lean gas saja. Penggunaan untuk lean gas itu mungkin spesifik pada plant/pabrik tersebut. Umumnya transmitter dirancang kompatibel dengan gas ataupun liquid/cari. Agar yakin, menurut TeknisiInstrument, coba lihat di manual book-nya, apakah transmitter tersebut kompatibel dengan cairan yang ada pada DWT?

      2. Range pada nameplate umumnya adalah range minimum dan maksimum dari transmitter yang bersangkutan. Artinya transmitter tersebut bisa dikalibrasi maksimum dari -5000 sampai dengan maksimum 5000mmH2O. Jika transmitter tersebut dihubungkan dengan PLC/DCS, coba lihat range (scalling) pada PLC/DCS tersebut, maka transmitter harus dikalibrasi mengikuti scalling pada DCS/PLC. Jika range pada datasheet sama dengan range pada PLC/DCS, maka range tersebut yang digunakan.

      Semoga membantu,
      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  13. ReSa

    Untuk logix nya ndak ada pak…jd lgsg pembacaan dr field…range nya memang terlalu kecil untuk transmitternya sehingga pembacaan DP harus diatas 1.. anehnya kenapa saat hujan saja pak pembacaan tidak normal namun saat panas terbaca nol ya pak ?

    Mungkin ada pengalaman sebab2 lainnya pak..

    Mohon informasinya..

    Salam
    Revina

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Mbak Revina,
      Berapa range transmitter-nya (range differential pressure-nya)?
      Mungkin range transmitter terlalu besar (terlalu lebar) dan flow (differential pressure) yang terukur terlalu kecil, sehingga flow transmitter tidak membacanya. Atau mungkin orifice-nya terlalu besar diameternya, coba lakukan kalkulasi resizing untuk orifice-nya, apakah sudah cocok untuk flow yang akan diukur?

      Jika saat malam atau hujan bisa membaca flow, coba lihat termperatur saat hujan/saat malam, jika turun/lebih rendah dibanding siang/saat tidak hujan, berarti flow range transmitter terlalu besar atau orifice terlalu besar diameternya.
      Mengapa saat malam/hujan bisa membaca flow, karena (mungkin) temperatur turun dan gas lebih padat sehingga standard flow-nya menjadi lebih besar untuk setiap volumetric flow yang sama.

      Saran TeknisiIntrument:
      1. Coba lakukan kalkulasi ulang (orifice sizing) untuk orifice-nya, mungkin perlu ganti orifice dengan diameter yang lebih kecil.

      2. Lakukan penyesuaian range untuk transmitternya jika sudah didapat dp maksimum saat flow maksimum pada orifice-nya.

      3. Lakukan kalibrasi ulang sesuai dengan perubahan di atas.

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  14. ReSa

    Pak ade

    Mungkin bs di share pak untuk cara perhitungan orifice sizing dan referensinya.. kmgkinan mgkn justru orifice nya kekecilan pak.. untuk penyesuaian range sudah dilakukan pak krn sebelumnya transmitternya dpt running continue dan tdk bermasalah sperti sekarang..

    Mohon informasinya pak

    Salam
    Revina

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Mbak Revina,
      Perhitungan bisa dilakukan dengan software InstruCalc atau coba yang online di sini: http://www.pipeflowcalculations.net/orifice.xhtml

      Kalau orifice terlalu kecil, dP-nya akan besar pada flow yang sama, dan transmitter akan mengukur maksimum, kecuali ada settingan khusus di transmitter, yang akan meng-override hasil kalkulasi dengan angka tertentu.

      Coba ukur differential pressure antara upstream dan downstream orifice, pada berapa persen kah nilai terukur dari span differential pressure dari transmitter?

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  15. nanda

    selamat siang kang, mau bertanya lagi, sekarang dipabrik saya menggunakan radar vegapuls untuk level material, tapi pembacaan radarnya sering salah, setiap pagi pembacaan level maksimal padahl tidak ada material, dan setelah dicek seperti ada pengembunan pada pelindung corong antenna, yang saya tanyakan adalah apakah pelindung corong antena (pp antenna lens) harus digunakan atau boleh dilepas?

    Reply
  16. Revina

    Pak Ade

    Mau tanya pak.. untuk standard pengisian glikol dan kalibrasi DP transmitter agar level terbaca sesuai kondisi aktual blh mnt referensinya kah pak… krn ini kami isi gikol pada transmitter dgn trial namun ketika ditambahkan volumenya justru pembacaan level semakin berkurang..

    Mohon informasinya

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Mbak Revina,
      Apakah maksudnya glycol untuk mengisi sensing line dari sebuah transmitter? Atau istilahnya, “wet leg”.

      Jika asumsi TeknisiInstrument benar:
      Apakah transmitter yang digunakan adalah DP transmitter? Jika ya, pengisian pada sisi low-nya saja, jika tidak dihitung ulang saat kalibrasi, akan memperkecil pembacaan.
      Jika melakukan konfigurasi wetleg transmitter, kita harus tahu juga masa jenis (atau specific gravity) dari liquid filler (glycol dalam kasus Mbak Revina).

      TeknisiInstrument pernah menulis mengenai konfigurasi wetleg transmitter. Jika berkenan, bisa baca-baca di link berikut:
      https://www.teknisiinstrument.com/2010/04/15/dry-leg-dan-wet-leg-pada-level-transmitter/
      https://www.teknisiinstrument.com/2011/01/03/mengkalibrasi-level-transmitter-dengan-remote-seal-bagian-1-pendahuluan/
      https://www.teknisiinstrument.com/2011/01/04/mengkalibrasi-level-transmitter-dengan-remote-seal-bagian-2-suppressed-zero/
      https://www.teknisiinstrument.com/2011/03/24/mengkalibrasi-level-transmitter-sistem-satu-seal-bagian-3-elevated-zero/
      https://www.teknisiinstrument.com/2011/03/27/mengkalibrasi-level-transmitter-sistem-dua-seal-bagian-4-tamat-elevated-zero/

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  17. fremnagar

    selamat pagi pak ade….!!!
    saya mau tanya pak …
    saya lg mengerjakan chemical pump merk milton roy.sebatas discharge pompa bisa menghasilkan flowrate 4.0 GPH dengan pressure 2000 Psi . terus dari discharge pompa di conect tubing 1/2″ sepanjang 10 M ke pipa 10 “. yang saya tanyakan :
    1.apakah flowrate di ujung tubing akan sama dengan sebatas discharge pompa…??
    2.bagaimana rumus untuk menghitung flowratenya pak ? terima kasih pak.
    salam ,
    fremnagar

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Pak Fremnagar,
      1. Selama pada saluran tubingnya tidak ada kebocoran, maka flowrate akan sama di setiap titik saluran tubing tersebut, jadi kalau pompa di set 4 gph, maka diujung tubing akan mengalir dengan flowrate 4 gph juga.
      2. Maksudnya rumus bagaimana Pak? Karena pada metering pump umumnya tersedia adjuster/pengatur flowrate yang diinginkan. Untuk akurasi flow, biasanya pada saluran keluarannya (atau distribusinya) dipasangi flowmeter.

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  18. Fremnagar

    Terimakasih pak atas jawaban nya…!! Sukses selalu pak…!!
    Pak saya mau melanjutkan kan pertanyaan saya, di metering nya cuman pakai gelas takar pak untuk kalibrasinya itupun posisinya di suction pompa. Bukan pakai flow meter pak.
    2. Klw ukuran tubing pengaruh tidak pak untuk menghitung flow rate ?
    3. Klw discharge pompa nya 4gph, terus diconect tubing 10 m kepipa 10 “, sepanjang tobing ada 3 cabang. Yang 1 kepipa 6”, cabang 2 ke pipa 8 “, cabang 3 ke 10”. Yang saya tanyakan pak. Apakah flow rate nya akan sama dengan cabang 1,2,3 ? Karena saya pernah debat dengan enginering nya pompa. Dia katakan akan sama hasilnya karena menurut hukum mechanical fluida. Tp saya ngotot hasilnya tidak akan sama. Terima kasih pak.
    Salam,
    Fremnagar s

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Pak Fremnagar,
      Umumnya, untuk verifikasi flowrate memang memakai gelas ukur (atau tube kecil dengan skala volume).
      Menurut TeknisiInstrument, Ukuran tubing tidak mempengaruhi, hanya saja, semakin kecil ukuran tubing, semakin besar restriksi liquid pada tubing tersebut. Yang mempengaruhi besarnya flowrate pada metering pump adalah volume stroke dan jumlah stroke per satuan waktu.
      Tidak ada jaminan kesamaan flowrate di ketiga ujung hasil percabangan tubing tersebut. Jika semua jaraknya sama, dan tekanan pada ketiga pipanya sama, mungkin saja flowrate-nya akan terbagi tiga secara sama besar, tapi banyak faktor yang bisa menyebabkan flow berbeda untuk setiap ujung tubing di titik injeksi ke pipa, misalnya jumlah tekukan tubing.
      Idealnya, di setiap injectin point dipasangi flowmeter dan flow valve untuk mengatur berapa flowrate yang diperlukan pada masing-masing titik injeksi.

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  19. nanda

    selamat pagi pak ade…

    saya mau bertanya lagi nih, maaf kalau pertnyaannya agak kurang greget, maklum masih pemula.

    saya masih belum familiar dengan istilah istilah pada instrumentasi, seperti pada flowmeter elektromagnetik dan electropneumatic valve positioner ada istilah hysterisis dan dead band. maksutnya apa ya pak ade…. mohon pencerahannya.

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Selamat Siang Pak Nanda,
      Histerisis itu merupakan fenomena fisis yang tidak bisa dihindari. yaitu adanya keterlambatan respon dari perintah yang diberikan, sampai respon tidak sesuai dengan perintah, atau keterlambatan reaksi dari sebuah aksi. Misalnya jika pressure gauge dengan range 0-100psi, jika diberi tekanan dari 0-50psi, tidak memiliki linearitas yang sempurna, dan demikian pula jika diberi tekanan dari 50-100psi. Pun demikian jika tekanan diturunkan dari 100 ke 50psi dan dari 50 ke 0psi, pressure gauge tersebut tidak memiliki linearitas yang sempurna. Jika digambarkan dalam sebuah grafik, sumbu x adalah tekanan sebenarnya dan sumbu y adalah tekanan terbaca, maka grafik histerisis akan seperti huruf “S”, dan grafik ideal harusnya berupa garis lurur membentuk sudut 45°terhadap sumbu x. Agak susah memang dijelaskan dengan kata-kata, coba lihat gambar grafiknya di search engine:
      https://www.google.com/search?site=&tbm=isch&source=hp&biw=&bih=&q=hysteresis+in+instrumentation&btnG=Search+by+image

      Sedangkan deadband merupakan sebuah zona atau daerah dimana peralatan instrument tidak memberikan respon terhadap input yang diberikan.

      Mohon maaf jika jawabannya tidak jelas.

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
      1. nanda

        terima kasih pak ade atas jawabannya, tapi saya sedikit kurang paham, pada flowmeter elektromagnetik merk toshiba dalam setting parameter span terdapat pilihan multiple range, pada muliple range ini kita bisa setting nilai hysterisis nya pak ade. yang saya bingungkan kenapa kita harus setting nilai hystrisis?semakin kecil kan seharusnya semakin bagus?. trus juga maksut multiple range nya disini apa ya?…dan juga ada namanya exciting current dan exciting frequency , apa ya maksutnya pak ade..

        maaf ya pertnyaannya terlalu bnyak dan terlalu mendasar, otodidak soalnya pak de, kerja sama orang cina bermasalh dengn bahasa

        Reply
        1. teknisiinstrument Post author

          Pak Nanda,
          Tipe apa?
          Apakah sudah baca manual booknya? Jika belum, bisa di-download di link berikut:
          http://www.cancoppas.com/files/TIC_LF620_LF622_Converter_Instruction_Manual_6608.pdf

          Silakan buka halaman 118. di situ dijelaskan.

          Terus terang, secara praktek TeknisiInstrument belum menangani flowmeter dimaksud.

          Tapi menurut manual booknya, multiple range itu adalah kemampuan dari flowmeter dimaksud untuk membaca flow pada range yang berbeda. termasuk kalau ada reverse flow.

          Hysteresis merupakan deadband saat terjadi perubahan/pergantian range. Deadband adalah suatu zona atau daerah dimana flowmeter tidak akan merespon perubahan. Nah nilai hysteresis inilah yang diset agar seberapa perubahan flow yang harus direspon untuk menentukan berapa output mA-nya saat terjadi perubahan range. Dan tiap range memiliki span masing-masing.

          Umumnya fitur multirange ini untuk menjaga akurasi alat, misalnya jika ada flow yang akan diukur 0-100bpd (barrel per day), kemudian kita membuat/membagi range menjadi 4: 0-25, 25-50. 50-75, 75-100 bpd (ini misal, mungkin tidak persis seperti pada flowmeter di atas). dan setiap perubahan flow pada perbatasan range (misalnya di kisaran 25, maka ada zona dimana perubahan range tersebut tidak direspon. Untuk setiap range yang disetel, mungkin transmitter (atau flowmeter) memiliki range output tertentu yang bisa di setting.

          Paragraf di atas hanya menurut TeknisiInstrument, sangat mungkin berbeda dengan yang diterapkan pada flowmeter toshiba yang ditanyakan.

          Mohon maaf kalau tidak bisa menjawab 🙂

          Salam,
          TeknisiInstrument

          Reply
  20. fremnagar

    selamat sore pak ade…!!!
    semoga sehat selalu…
    saya mau bertanya pak….!!
    1.apa itu reverse dan direct di positioner pak (pres control valve )…??
    2.apa fungsi proposional band di positioner…??
    salam
    fremnagar

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Selamat Pagi Pak Fremnagar,
      Terima kasih doanya. 🙂
      Semoga Pak Fremnagar juga selalu sehat.

      1. Reverse acting pada positioner berfungsi untuk membalikkan aksi dari control valve, sinyal minimum akan menghasilkan travel maksimum, dan sinyal maksimum akan meghasilkan travel minimum secara proporsional (sinyal 0-100%, travel 100-0%). Sedangkan direct acting, sesuai namanya, sinyal minimum akan menghasilkan travel minimum dan sinyal maksimum akan menghasilkan travel maksimum secara proporsional (sinyal 0-100%, travel 0-100%).

      2. Proportional Band pada merupakan parameter tuning, yang akan menentukan respon dari control valve.

      Semoga bisa menjawab.

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
      1. cindy

        Assalamu’alaikum pak
        salam kenal
        saya Cindy

        saya mau bertanya pak, sebelumnya bapak sudah menerangkan mengenai reverse acting dan direct acting pada positioner. maksud dari sinyal dan travel itu apa ya pak kalo boleh tau? apakah sama dengan input dan output?

        Terimakasih sebelumnya pak

        Reply
        1. teknisiinstrument Post author

          Wa’alaikum salam wrwb.
          Salam kenal Mbak Cindy,
          Ya betul sekali, travel adalah kerja akhir (output) dari control valve yang dikendalikan oleh positioner dan sinyal adalah input positioner yang berasal dari (umumnya) controller, bisa berupa stand-alone controller, DCS atau PLC.

          Salam,
          TeknisiInstrument

          Reply
  21. onnysuryablog

    Selamat malam pak
    Saya mau bertanya tentang PLC GR RX7i, cara membuat project baru bagaimana ya pak? Apa bapak punyak tutorialnya?
    Mohon bimbingannya. Terimakasih

    Reply
      1. Anonim

        Assalammu’alaikum wr.wb
        Salam kenal kang dari saya,,
        Mau bertanya kang,?
        1. Apa penyebab kenaikan suhu dan ampere pada servo EH BFPT turbin,,mohon pencerahannya kang,,
        2. Cara membaca transmitter pada indicator biasanya tertera % maksud nya apa pak,,mohon maaf pak saya baru di bidang instrument

        Reply
        1. teknisiinstrument Post author

          Wa ‘alaikum salam wr. wb.
          Salam kenal Kang/Mbak “Anonim”

          1. Terus terang saya belum pernah menangani servo EH BFPT, tapi secara umum, motor listrik (termasuk servo), jika mengalami kenaikan temperature, salah satunya adalah gejala dari overload (over current), atau mungkin over voltage.
          Untuk servo, bisa jadi karena servo driver-nya yang bermasalah. Jika memungkinkan, coba lakukan pengukuran arus pada motor tersebut, atau jika ada fasilitas “read-out” pada servo driver/controller-nya, coba baca ampere-nya. Bandingkan dengan spesifikasi motornya, apakah berlebih atau tidak? Jika berlebih, coba lakukan solo run, dengan melepaskan beban mekanis dari servo tersebut, kemudian jalankan servo, dan lihat arusnya.

          2. Bacaan % pada indikator transmitter merupakan persentasi dari range-nya, misalnya range transmitter adalah 0-200psi, dan terbaca 75%, maka transmitter tersebut sedang mendeteksi tekanan sebesar 75% x (200-0) = 150psi, dan mengeluarkan sinyal sebesar (75% x (20-4)) + 4= 16mA

          Semoga itu yang dimaksud. 🙂

          Salam,
          TeknisiInstrument

          Reply
  22. Trio

    Assalamu’alaikum.
    Salam Bani Instind.

    Saya ingin bertanya mengenai simulasi magnetic flow transmitter, bagaimana caranya simulasi atau dry calibration flowmeter tersebut? mengingat media yg dilalui flow transmitter tidak ada. sedangkan terminal yg ada pada transmitter tersebut terdiri dari:
    1. Pulse Output
    2. Switch Output
    3. Current Output

    Apakah kita dapat simulasi atau meng inject current untuk mengetahui range 4 – 20 mA nya?
    Mohon pencerahannya kang.
    Terima Kasih.

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Wa ‘alaikum salam wrwb.
      Kang Trio, salam kenal.

      Untuk melakukan zero check, dalam keadaan terpasang pada flowline dan berisi fluida proses di dalamnya, tutup valve (upstream dan/atau downstream)-nya, agar fluida tidak mengalir. Dalam keadaan ini transmitter harus menunjukkan atau menghasilkan sinyal keluaran pada angka minimum (misalna 0 untuk penunjukkan dan 4mA untuk output, jika menggunakan output 4-20mA).

      Untuk mengetahui berapa range dari transmitter tersebut, bisa dilihat di datasheet-nya, atau lihat di manualnya, umumnya pada model number (ordering number) disertakan kode-kode yang berhubungan dengan spesifikasi teknis, seperti ukuran, range dll.

      Saran saya, baca dulu manual book-nya, di sana insya Allah akan didapati informasi penting mengani flowmeter yang bersangkutan. Karena mungkin saja tiap merk memiliki sistem (terutama penamaan konfigurasinya) yang berbeda, walaupun sama-sama magnetic flowmeter.

      Wassalam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  23. andi

    Assalamualaikum kang.

    saya pingin nanya kang kalau saya kerja di pelabuhan dibagian sistem kendali saya harus mempersiapkan apa ya kang? saya kurang mengerti dan kurang pinter kang dan saya pingin pinter dan biar siap buat kerja disana. pengalaman kerja pertama saya kang soalnya kemarin baru wisudaan. alhamdulillah angkatan 39 instrument kontrol proses smkn1cimahi lulus semua.
    hatur nuhun kang.

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Wa ‘alaikum salam wr. wb.
      Kang Andi,
      Saya tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut, karena saya belum pernah bekerja di pelabuhan, dan saya tidak tahu seperti apa sistem kendali di pelabuhan tersebut.
      Jadi kalaupun saya menjawab, jawabannya adalah “tidak tahu”.
      Tapi kalau masih di dunia instrumentasi, ilmu yang didapat di sekolah sudah cukup untuk menjadi modal awal, tinggal beradaptasi dan mengembangkan saja pada dunia sebenarnya. bahkan mungkin sekarang sudah banyak perubahan sistem belajar, yang mungkin jauh lebih baik dibanding jaman saya dulu, sehingga secara logika ilmu yang didapat juga lebih baik dibanding jaman saya dulu. Dan Insya Allah akan cukup menjadi modal untuk bekerja.

      Kalau ibu saya bilang, kalau ingin pinter, kita harus belajar 🙂

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  24. Maulana

    Assalamu’alaikum kang

    Saya mau nanya, kalo hartcom di sambung paralel ga bisa online sama transmitter knp ya? Pas saya coba di seri malah bisa. Itu kejadian di beberapa transmitter aja, yg lain nya di sampung paralel bisa online. Utk source yg terukur terminal transmitter 23 vdc.

    Mohon pencerahannya kang. Terimakasih

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Wa ‘alaikum salam wr. wb.
      Merk dan tipe apakah transmitternya?
      Apakah transmtiternya 2, 3, atau 4 wire?
      Apakah sudah lihat manual book-nya?
      Saya pernah melihat ada instrument yang memiliki terminal khusus untuk koneksi HART comm. Mungkin transmitter yang ditangani Kang Maulana seperti itu…
      Jika tidak ada terminal khusus, coba pasang resistor 250 ohm seri dengan transmitter, kemudian konek HART comm secara paralel dengan transmitter.

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  25. herdi

    All,
    Saya mau cari RTD Temperatur Transmitter pyromation dimana ya….

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Pak Herdi,
      Salam kenal.
      Untuk keperluan apakah Pak?
      Kalau untuk keperluan umum, bisa di cari di online shop, silakan cari dengan keyword “RTD PT100” atau “RTD PT1000” atau “PT100” saja.

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  26. Hafidh

    assalamu alaikum teknisiinstrumen
    Saya Hafidh dari Polban.
    saya mau nanya pada sistem cascade level dan flow pada level control actionnya direct dan flow reverse. Apakah kontrol action ini berpengaruh terhadap tuning PID ?
    soalnya saya pernah membaca bahwa nilai p pada primer harus lebih besar dari loop sekunder. Tetapi yg saya temukan pada Co2 stripper malah sebaliknya. Apakah pengaruh dari control action tersebut ?
    mohon penjelasannya.
    terima kasih

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Wa ‘alaikum salam wr. wb.
      Pak Hafidh, salam kenal 🙂
      Menurut beberapa referensi yang pernah TeknisiInstrument baca, controller slave harus lebih responsif daripada master-nya,agar bisa mengakomodasi perubahan PV pada controller master-nya secara signifikan. Besar kecilnya nilai “p”, terhantung dari terminologi yang dipakai, apakah memakai terminologi PB (Proportional Band) atau k (gain). Untuk membuat responsif, nilai PB harus kecil (atau gain harus besar) dan sebaliknya. Tuning yang dilakukan adalah pada controller slave-nya terlebih dahulu.

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Pada EPKS, lihat equation yang dipakai pada PID controller, apakah menggunakan EQU-A, EQU-B dan yang lainnya. Karena setiap equation memiliki karakter tersendiri, responsif terhadap perubahan PV, atau perubahan SP, atau perubahan error. Setiap equation dijelaskan pada “Knowledge Builder”, bisa dibaca di sana.

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  27. Anonim

    Assalamu alaikum wr.wb, kang,

    Salam kenal, saya Reyfaldi dari medan,
    Pak saya mau tanya,
    apakah untuk konfigurasi loop 4-20mA HART transmitter ke PC harus menggunakan resistan, padahal transmitter ini sudah punya interfacenya langsung? dan apakah semua jenis transmitter, baik itu level, switch atau dp memang harus menggunakan resistan?
    bisa bantu jelaskan fungsinya dan bagaimana contoh rangkaian resistan untuk arus 24v?
    Mohon maaf jika pertanyaan saya terlalu mendasar, saya masih newbie, hehe

    Mohon bantuannya, Kang.
    Terimakasih.

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Wa ‘alaikum salam wr. wb.

      Pak Reyfaldi, salam kenal kembali.
      Umumnya, agar komunikasi data melalui protokol HART bisa berjalan dengan baik, loop harus memiliki impedansi, umumnya 250ohm. Dan untuk meyakinkan agar loop memiliki impedansi tersebut, ada beberapa hart communicator yang menyarankan untuk memasang resistor 250ohm pada loop bersangkutan.
      Pemasangannya diseri dengan transmitter.
      Biasanya di manual book transmitter atau HART communicator dijelaskan bagaimana pemasangan HART device pada sebuah loop, termasuk pemasangan resistornya.

      Maaf, apakah PC diatas maksudnya adalah Personal Computer?

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  28. Hariyanto

    Assalammualaikum Pak,
    Salam kenal…Saya Hariyanto dari Jakarta,
    Pak saya punya problem instrument di site tempat saya bekerja, dimana setelah penggantian pressure tranduser pembacaan di PLC selalu overrange…..Kebetulan di pressure trandusernya terdapat selector switch 4-20 mA atau 0-10 VDC…Saya sudah mengganti selectornya ke posisi 4-20mA sesuai dengan Analog Input di PLC. Pertanyaan saya apa yang menyebabkan overrange di sini ya pak? Apakah trandusernya rusak atau polaritas koneksi ke module Analog Input PLCnya terbalik….Terima Kasih Atas pencerahannya.

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Wa ‘alaikum salam wr. wb.
      Salam kenal kembali.
      Apakah transducer (trasnmitter)-nya sudah dikalibrasi?
      COba yakinkan agar transmitternya terkalibrasi dengan benar.
      Pertanyaan sejenis pernah didiskusikan di link berikut, mungkin sejenis:
      https://www.teknisiinstrument.com/qa/tanya%e2%99%a5jawab-3/#comment-1142
      https://www.teknisiinstrument.com/qa/tanya%e2%99%a5jawab-3/#comment-1126
      https://www.teknisiinstrument.com/2011/09/28/self-made-plc-training-kit/#comment-575

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  29. Anonim

    Assalamualaikum pak. saya ingin menanyakan kenapa pembacaan di temperatur control dengan hmi tidak sama. apa penyababnya dan langkah apa yg harus saya kerjakan.
    terima kasih sebelumnya.
    wassalamualaikum..

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Wa ‘alaikum salam wrwb.
      Bagaimana hubungan antara temperature transmitter dengan controller dan dengan HMI, Mengenai controllernya, apakah stand alone controller atau PLC atau apa?
      Menurut TeknisiInstrument:
      – Coba yakinkan kalibrasi temperature transmitter sudah benar.
      – Periksa scalling di controller sudah sesuai dengan range yang seharusnya.
      – Coba periksa komunikasi data antara controller dengan HMI sudah bagus, dan periksa apakah jenis datanya sudah sesuai antara controller dengan HMI, misalnya apakah menggunakan floating point, double integer atau yang lainnya. Karena perbedaan jenis data akan mengakibatkan perbedaan range atau batas bawah dan bataw atas dari data yang akan ditampilkan.

      Semoga membantu.

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
      1. rico

        slam pak.mau bertanya utk kalibrasi level radar automatic tank gauge type endress hauser NRF590.bagaimana ya pak .langkah2 kerjanya

        Reply
      2. rico

        selmat siang pak.mau bertanya pak.utk kalibrasi automatic tank gauge level radar type NRF590.gmn caranya?
        Trims.

        Reply
          1. rico

            selmat siang pak ade.
            saya ingin menanyakan perhitungan level transmitter dengan :
            – measuring range 13.2 (m) Tank Height
            – normal level 12.278 (m)
            tolong bantuannya.trimakasih

            Reply
            1. teknisiinstrument Post author

              Pak Rico,
              Transmitter apakah yang digunakan? Apakah differential pressure transmitter?
              Jika ya, maka perlu data tambahan seperti SG dari cairan dalam tangki, jenis transmitter, apakah mengguanakan remote seal atau tidak, kemudian apakah tangki tertutup atau terbuka.

              Salam,
              TeknisiInstrument

  30. rico

    type radar ,pak ade,
    dan close tank (cone roof),karna dipertamina pak ade,

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Pak Rico,
      Jika transmitter tersebut berhubungan dengan yang didiskusikan di atas, coba lihat manual book pada link di atas, dan mulai halaman 18, di sana dijelaskan cara konfigurasinya. Termasuk perhitungan level yang ditanyakan oleh Pak Rico.

      Mohon maaf, TeknisiInstrument belum pernah secara praktis menangani transmitter tersebut.
      Jadi belum tahu triknya.

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
      1. rico

        pagi pak ade.
        mau nanya pak apa punya link untk download aplikasi buat program logic control?

        Reply
        1. teknisiinstrument Post author

          Pak Rico,
          Selamat pagi.
          Apakah yang dimaksud aplikasi untuk memprogram PLC (Programmable Logic Controller)?

          Jika ya, sangat tergantung dari merk dan tipe PLC yang bersangkutan, ada program/aplikasi yang bisa didownload secara gratis, ada yang harus dibeli.

          Salam,
          TeknisiInstrument

          Reply
  31. rico

    ia pak.yg didonwload gratis aja pak.buat pelajaran saja ,mau mencoba

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Pak Rico,
      Maksudnya PLC simulator?
      Coba download RSLogix Emulate di we site-nya ab.
      http://compatibility*rockwellautomation*com/Pages/MultiProductDownload.aspx
      Pada kolom product search, ketikkan “emulate” tanpa tanda petik. Kemudian klik tombol search (lambang kaca pembesar).
      Lalu pilih “RSLogix Emulate 500”, pilih versi lalu klik download.

      Atau coba ikuti link berikut:
      http://compatibility*rockwellautomation*com/Pages/MultiProductFindDownloads.aspx?crumb=112&refSoft=1&toggleState=&versions=50059

      Catatan: Ganti tanda bintang (*) di atas dengan titik (.)

      Mungkin diminta untuk login agar proses download bisa berlanjut.

      Semoga membantu
      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  32. Rahmat

    assalamualaykum pak..

    perkenalkan saya rahmat…
    saya ingin menanyakan bagaimana cara menampilkan pembacaan pada pressure transmitter di digital panel meter? serta alat-alat apa saja yang perlu saya siapkan untuk instalasi nya?

    mohon bantuannya pak, terimakasih sebelumnya

    wassalam..

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Pak Rahmat,
      Salam kenal.

      Pertama ketahui dulu spesifikasi dari transmitternya, umumnya meliputi range atau rentang bacaan dari 0-100%, misalnya pressure transmitter range 0-300PSI, Kemudian perlu diketahui juga jenis dan reange outputnya, misalnya arus listrik 4-20mA untuk mewakili bacaan 0-100% (misalnya 0-300psi). Setelah itu, kita harus ketahui juga spesifikasi dari digital panel meternya, analog input-nya harus sesuai dengan sinyal keluaran dari transmitter (misalnya 4-20mA). Dan apakah transmitter-nya acitve-power supply atau tidak, dan panel meter harus menyesuaikan.

      Setelah panel meter dan transmitter sesuai, kemudian panel meter dikalibrasi/dikonfigurasi range-nya sesuai dengan range transmitter.

      Setelah itu lakukan wiring, yaitu menyambungkan transmitter ke panel meter, silakan mengacu kepada manual book masing-masing untuk lebih detil.

      Jika Pak Rahmat sudah ada referensi merk dan tipe transmitter serta panel meternya, maka akan mudah kita mengidentifiksinya, dengan mengacu kepada manual book-nya.

      Mohon maaf jika jawabannya kurang pas.

      Salam.
      TeknisiInstrument

      Reply
  33. rico

    selamat sore pak ade

    mau bertanya untuk rangkaian gambar kalibrasi diffrential transmitter gmana ya pak.soalnya saya coba mau baca dihartcom dan dimultimeter buat pambacaan mA nya,tlong informasinya pak.
    trimakasih.

    Reply
  34. rico

    selamat sore pak ade.
    mau bertanya pak,untuk kalibrasi safety valve apa punya rangakaiannya?
    trimaksih.

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Selamat Pagi Pak Rico,
      Apakah yang dimaksud safety valve itu adalah PSV?
      Jika Pak Rico ada manual book dari PSV yang bersangkutan, biasanya dijelaskan bagaimana cara kalibrasinya. Karena ada PSV yang menggunakan pilot valve, sehingga cara merangkainyapun berbeda.

      Biasanya kalibrasi PSV dilakukan pada test bench.
      Skema generiknya bisa dilihat di link berikut:
      https://www.teknisiinstrument.com/wp-content/uploads/2016/11/skema-pengujian-PSV.jpg

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  35. rico

    benar pak ade,PSV,wah terimaksih sdh dikasih link nya pak.
    salam instrument

    Reply
  36. rico

    sore pak ade
    maaf pak,mau bertanya lagi ne kalibrasi untuk orifice plate incliding ro bagaimana ya?
    dan rangkaiannya pak.trimaksih.

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Met sore Pak Rico,
      Mohon maaf, saya belum tahu orifice plate incliding ro.

      Kalau maksudnya adalah orifice plate, biasanya tidak dikalibrasi, tapi diuji dan disertifikasi oleh lembaga yang terakreditasi, terutama orifice plate yang dijadikan sensing element untuk pengukuran fiscal atau jual beli.

      Adapun RO (restriction orifice) umumnya tidak dijadikan sebagai sensing element, tapi dijadikan sebagai flow restriction untuk mengurangi aliran fluida.

      Kalau “orifice plate incliding ro”, terus terang saya belum tahu.

      Salam,
      ReknisiInstrument

      Reply
  37. rico

    selamt sore pak ade.
    mau bertanya pak,untuk menghitung toleransi/selisih(error) dari transmitter.bagaimana ya pak,apa punya rumusnya.terimaksih.

    Reply
  38. Faris Deni

    Kang Ade

    maaf izin bertanya
    cara membaca barton chart yang square root chart bagaimana ya kang?
    barton chart nya no : MC L-10

    saya belum nemu cara pembacaan nya,mungkin kang Ade ada referensi untuk di baca?

    Terima Kasih
    Sebelumnya

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Kang Faris Deni,
      Salam kenal. Terima kasih sudah berkunjung ke blog TeknisiInstrument.com

      Sudah lama saya tidak menggunakan barton chart.
      Jika saya tidak salah ingat :
      DP aktual = ((bacaan_pada_chart/10)^2)*range

      Misal:
      Range=100inh2o
      Bacaan= 5

      Maka dp aktual adalah
      ((5/10)^2)*100 = 25inh2o

      Coba check, akar 25 berapa?

      Itu jika tidak salah…
      Skala untuk dp pada chart nya dari 0 sampai berapa (maaf saya tidak ingat skala barton chart hehehe)

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  39. Anonim

    Assalamualaikum kang mau bertanya warna pada valve itu ada artinya gak dan bisa di jelaskan gak kang 1 per 1

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Wa ‘alaikum salam wrwb.
      Warna apakah yang dimaksud? Menurut TeknisiInstrument, setiap pabrikan mengecat setiap valve-nya sesuai warna standar pabrik yang bersangkutan, kecuali saat pemesanan mencantumkan warna dan jenis cat pada datasheet-nya.

      Mohon maaf jika jawabannya kurang pas.

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  40. Mislah Zairusman

    Pak, saya mau tanya, apa penyebab PLC tidak mau bekerja otomatis lagi?
    Sedangkan mode manual tetap bekerja,padahal mode auto dan manual berada pada 1 unit PLC yg sama.
    Input berupa pressure transmitter dan output berupa automatic valve.

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Pak Mislah Zairusman,
      Salam kenal.
      Apakah sudah dilihat di dalam programnya saat PLC running?
      Mungkin ada kondisi logic yang tidak terpenuhi.

      Agak sulit untuk “menebak” apa penyebabnya jika informasinya terlalu sederhana seperti itu. 🙂

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
      1. Mislah Zairusman

        Belum pak, kami terkendala karna tidak mempunyai alat atau software dari PLC tersebut, karena dari awal di program oleh orang luar.
        Saya hanya teknisi elektrik yg tidak begitu paham tentang PLC.
        Ini adalah pabrik kelapa sawit, dan PLC disini untuk mengontrol sistem perebusan.

        Untuk masalah seperti itu biasa nya apa masalahnya pak?

        Reply
        1. teknisiinstrument Post author

          Mungkin ada kondisi logic pada program yang tidak terpenuhi pada saat mengeksekusi subroutine (program) di mode auto. Penyebabnya bisa sinyal dari lapangan tidak sampai ke PLC, misalnya karena kabel putus, transitter tidak terkalibrasi, dll.

          Auto-nya itu seperti apa? Apakah PID control? atau sequential control (berupa urutan perintah untuk menghidupkan/mematikan mesin berdasarkan kondisi tertentu)?

          Sebaiknya lihat program PLC-nya secara online (laptop/komputer dengan software pemrograman PLC ) nyolok ke PLC-nya.

          Apakah PLC dihubungkan dengan HMI/MMI? atau adakah lampu indikator untuk alarm atau status? Jika ada, mungkin di sana ada informasi yang bisa digunakan sebagai landasan untuk troubleshooting.

          Salam,
          TeknisiInstrument

          Reply
  41. Tetra Baisul

    selamat siang pak, saya ingin bertanya soal DP transmitter, kami memiliki 3 DP transmitter merk yokogawa untuk mengukur level hotwell kondensor, dgn range 0-8 kPa, dgn LRV 9 kPa & URV 0 kPa, 2 transmitter mengalami kerusakan krn terendam air krn kebocoran pipa air laut, kemudian diganti yg baru dgn merk yg sama tp range nya 0-800 kPa , dan penunjukkannya tidak aktual (hunting di 98-100,7%) aktual nya 70%, analog inputnya pun terlalu besar yaitu 19 mA. Bagaimana sih cara kalibrasinya gan, atau settingnya agar penunjukkan aktual. terima kasih sebelumnya pak selamat siang 🙂

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Pak Tetra Baisul,
      Salam kenal Pa.

      Kalau melihat span yang diperlukan adalah 8kPa (range 0-8kPa), sedangkan transmitter pengganti adalah 800kPa (range 0-800kPa). Kemungkinan span transmitter telalu jauh, walaupun dikalibrasi dengan range 0-8kPa, kemungkinann akan memiliki akurasi yang kurang bagus. Coba dilihat di datasheet transmitter pengganti, berapa persen akurasinya?
      Jika transmitter tersebut dikalibrasi dengan range 0-8kPa (span 8kPa), maka hanya 1% dari kemampuan span transmitter (800kPa).
      Secara umum, kalibrasi digital electronic transmitter (atau smart transmitter), lakukan zero trim, set/kalibrasi LRV dan URV, kemudian trim analog outputnya.

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  42. Fathony

    Assalamualaikum
    Pak, saya masih baru soal instrument
    Mau tanya gimana cara instalasi untuk 1 instrument (misal Pressure transmiter 2 wire) yang dapat dibaca pembacaannya (4-20mA) oleh 2 PLC.
    Klo bisa mohon kasih gambarnya.
    Terimakasih

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Wa ‘alaikum salam wr.wb.
      Pak Fathony, salam kenal.
      Untuk mengirim sinyal dari transmitter ke dua receiver (2 PLC), bisa dilakukan dengan cara merakit AI (analog input) PLC pada dua PLC secara seri dengan transmitter, jadi hubungannya:

      (+)AI_PLC1 –> (+)Transmitter
      (-)Transmitter –> (-)AI_PLC2
      (+)AI_PLC2 –> (-)AI_PLC1

      Namun hati-hati, baca dulu manual book transmitter dan analog input PLC yang bersangkutan, karena dengan rangkaian seperti di atas, tegangan jatuh pada transmitter akan menjadi double, misalnya tegangan kerja PLC adalah 24 V, maka tegangan pada transmitter akan sekitaran 48 volt. Selain itu, jika PLC1 dan PLC2 memiliki sistem grounding yang tidak sama, akan memiliki beda potensial antara kedua titik grouding yang mungkin akan mempengaruhi akurasi sinyal.

      Idealnya kita bisa menggunakan signal splitter, atau signal conditioner, atau signal isolator, yang memilki satu input sinyal analog (mA) dan dua output sinyal analog (mA), kedua output tersebut masing-masing bisa dihubungkan ke PLC1 dan PLC2.

      Semoga membantu,
      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  43. Andika

    Kang mau nanya,1),dlm loop check FT difield to dcs by hart 475 .apakah hart 475 bisa mengirimkan dlm bentuk %,(0%,25%,50%,,,,,),krn biasanya sy pakai 4mA,8mA,12mA……krn sifitness menanyakan begitu??. 2).Kenaapa,dlm loop chek by hart 475(4mA,8mA….)di Lcd FT(foxboro DIP 10-T flow26C03N-M3L1H2)tidak terbaca hasilnya,sedangkan di dcs terbaca,klo diloop chek pakai preser(druc),Lcd ft dan dcs dapat membaca hasilnya.transmitter dah terkalibrasi & terinstall difield.trimks jwbnya Kang.

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Kang Andika,
      Jika TeknisiInstrument tidak salah interpretasi, loop check itu hanya untuk menguji sambungan sistem (wiring) dan kualitas sinyal dari transmitter sampai ke receiver (misalnya DCS, PLC, Controller dll) dengan benar sesuai desain.
      Dan yang field communicator (HART comm) memerintahkan transmitter untuk mengirimkan sinyal arus (mA) dengan besaran tertentu, tanpa melihat parameter proses yang (misalnya pressure pada pressure transmitter) terdeteksi saat itu. Jadi saat loop check, transmitter dipaksa untuk mengirimkan sinyal output (mA).
      TeknisiInstrument belum pernah menemukan transmitter yang saat loop check dengan hart comm, sinyal yang akan dikirim oleh transmitter dalam bentuk %, umumnya dalam satuan mA (4-20mA). Dan Receiver (misalnya DCS) tidak peduli yang dia terima itu hasil loop test atau sinyal sebenarnya, DCS akan tetap menampilkan nilai yang dia baca.

      Lain kasus dengan pressure transmitter saat di-inject dengan tekanan, transmitter tersebut sejatinya memang transmitter yang sedang bekerja secara normal, dan kegiatan tersebut biasanya tidak disebut loop check, tapi (mungkin) disebut calibration check. Sehingga local display dari transmitter akan menampilkan nilai bacaan dari transmitter (tergantung konfigurasi, bisa dalam % atau engineering unit).

      Mohon maaf jika pertanyaannya tidak terjawab.

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  44. Anonim

    selamat pagi pak
    mau nanya pak untuk prosedur kalibrasi control valve,pressure switch,level transmitter.dan pressure transmitter.

    Trimaksih.

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Selamat pagi,
      Terima kasih sudah berkunjung. Pertanyaannya menjadi masukan bagi TeknisiInstrument Insya Allah nanti diagendakan untuk membahas tatacara kalibrasi yang disebutkan di atas.

      Terima kasih,
      TeknisiInstrument

      Reply
  45. hadi

    izin bertanya kang,

    perbedaan antara bypass da override itu apa ya kang?

    terimakasih atas jawabannya

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Kang Hadi,
      Salam kenal.
      Menurut TeknisiInstrument, secara hasil akhir sama saja, tujuannya adalah untuk meniadakan fungsi safety dari peralatan. Perbedaannya terletak pada metodenya, sebagai berikut:

      BYPASS:
      Segala bentuk modifikasi baik software maupun hardware yang jika dilakukan akan meniadakan kemampuan sebuah peralatan untuk bekerja sebagaimana mestinya yang bisa mempengaruhi faktor safety dari sebuah alat.
      Contoh: Force I/O pada software DCS/PLC, jumper pada terminal kabel pada control panel, Melepas sumber tekanan udara pada SDV, dll

      INHIBIT:
      Mencegah atau mematikan fungsi dari sensor atau output dari sebuah sistem baik secara software maupun hardware.
      Contoh: Inhibit pada gas detector saat maintenance, Mematikan flame detector karena mengalami kerusakan

      FORCE:
      Merupakan salah satu fitur dalam software untuk sistem kendali yang memanipulasi nilai atau status dari sebuah tag/register/bit agar tetap memiliki status/nilai tertentu, tidak peduli apapun kondisi logic yang sebenarnya. Force bisa merupakan bypass karena bisa mematikan fungsi deteksi sebuah peralatan/sensor/aktuator, sehingga bisa mencegah sistem dari shutdown.
      Contoh: Sebuah SDV digerakkan oleh digital output dari sebuah controller, jika digital output-nya tersebut di-force high (ON), maka kalaupun terjadi shutdown, SDV tersebut akan tetap high (ON).

      OVERRIDE:
      Mengubah/mengganti respon output dari sebuah sensor atau sistem baik secara software maupun hardware. Mirip Force, hanya saja override tidak menghilangkan kemampuan deteksi dari sebuah sensor/sistem, hanya respon output-nya saja yang di”mandul”kan
      Contoh: Sebuah level transmitter yang di-override, akan tetap mendeteksi level, tapi jika settingan alarm tercapai, tidak ada respon/aksi output terhadap sistem selanjutnya.

      Semoga membantu.
      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  46. Ilham

    Pak saya mau tanya perbedaan positoner dengan i/p pada control Valve itu apa pak untuk secara fungsinya, terus cara kerja kedua alat tersebut bagaimana pak? Terimakasih

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Pak Ilham,
      salam kenal.
      Positioner berfungsi untuk menggerakkan (memposisikan) control valve sesuai dengan perintah/sinyal dari controller/DCS/PLC atau sumber sinyal lainnya. Misalnya controller mengirim sinyal 10%, maka si positioner akan menggerakkan control valve sebesar 10%.
      Sedangkan i/p converter hanya mengubah sinyal dari sinyal elektrik (umumnya arus 4-20mA) menjadi sinyal pneumatik (3-15 psi).

      Jika positiner pada control valve berjenis pneumatic (3-25psi), dan sinyal dari controller berupa sinyal elektrik (4-20mA), maka agar sinyal electric dari controller bisa menggerakkan control valve yang memilki positiner pneumatic, maka perlu dipasangi i/p converter.

      Mengenai cara kerja positioner, insya Allah nanti akan dibuatkan artikel khusus.

      Terima kasih,
      TeknisiInstrument

      Reply
  47. Hendi Widyanto

    Izin bertanya,
    pada saat kalibrasi transmitter, mengapa hartcom harus diberikan 250ohm?

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Pak Hendi Widyanto,
      Salam kenal.
      HART memerlukan voltage drop pada loop agar hard device bisa “terlihat” oleh hart commnunicator, voltage drop tersebut bisa “dibuat” dengan memasang resistor 250 ohm seri dengan power supply dan transmitter. Hal ini berlaku terutama pada saat bench calibration, dimana transmitter hanya dihubungkan dengan power supply.
      Jika kita melakuakan kalibrasi di lapangan, loop itu sendiri sudah memiliki resistansi yang cukup sehingga hart device bisa “terlihat” oleh hart communicator, sehingga tidak perlu lagi dipasangi resistor. Mengapa transmitter yang terpasang di lapangan loop-nya sudah memiliki resistansi yang cukup, karena controller/PLC/DCS yang menerima sinyal dari transmitter sudah memiliki resistansi yang cukup.
      Sebenarnya tidak harus tepat 250 ohm, umumnya, antara 200 sampai 600 ohm. SIlakan baca manual book hart communicator atau transmitter yang bersangkutan.
      Demikian semoga membantu.

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  48. Andika

    Kang ,unt mengetahui bahwa itu TC (transmitter termocopel),yg udah terinstall disite itu gmn??? dinameplat tertulis Rtd & pakai 2wire..Trimks jwbanya Kang.

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Kang Andika,
      Salam kenal 🙂
      Kalau pada nameplate tertulis RTD dengan 2-wire, berarti itu transmitter tersebut tidak menggunakan thermocouple sebagai sensornya.
      Jika pada transmitter tertulis RTD/TC, sepertinya ini yang harus diyakinkan apakah itu sensornya TC atau RTD. Agak sulit untuk membedakannya memang, apalagi kalau transmitter terpasang langsung pada dudukan sensor atau sensor menempel pada transmitter langsung, tidak remote-mounted.
      Yang paling gampang adalah dengan membuka bagian terminal untuk wiring pada transmitter tersebut, kemudian dilihat wiringnya ke RTD atau TC.
      Clue lain adalah, jika transmitternya remote-mounted, koneksi antara sensor dengan transmitter dibungkus dengan tube, biasanya menggunakan sensor TC.

      Semoga membantu,
      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  49. Andika

    Apakahkah ada nilai Resistan min – mak tertentu dg mengunakan fluke (pakai ohm),unt Transmitter TC.dlm kondisi TT off.Trimks Kang jawabanya.

    Reply
      1. Andika

        Maksudnya cek dengan mengunakan multimeter ( ohm),apakah ada nilai minimal & maksimal untuk mengecek Transmitter TC,??Trimks Sekali Kang jawabanya.dah membantu sekali jdi Techinician.

        Reply
        1. teknisiinstrument Post author

          Mas Andika,
          Yang diukur itu resistansi thermocouple-nya, atau resistansi transmitternya?
          Kalau thermocouple-nya, nyobanya menggunakan temperature bath, ujung thermouple-nya di panaskan dengan temperature bath pada temperatur yang diketahui, kemudian ujung kabel-nya diukur tegangan-nya (milivolt) tegangan keluaran pada temperatur tertentu harus sesuai dengan tabel dari thermocouple bersangkutan.
          Kalau yang diukur resistansi transmitter-nya, saya tidak tahu apakah ada angka tertentu, sebaiknya mengacu kepada manual book-nya.

          Salam,
          TeknisiInstrument.

          Reply
  50. Rama

    pak saya dari mahasiswa akamigas,saya mau tanya pengukuran level tangki terbuka dengan DP Transmitter. cara menghitung / rumus pressure pada LRV nya dan pressure pada URV nya?

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Mas Rama,
      Salam kenal.
      Pengukuran level untuk tangki terbuka dengan dp transmitter, prinsipnya sama saja dengan rumus tekanan hisrostatik.
      Misalnya ada tangki berisi air (SG=1) dengan rentang ukur 3 meter (3000mm), atau 0% di 0mm dan 100% pada 3000mm.
      Maka sisi low side dari dp transmitter dihubungkan ke atmosfer, dan sisi high nya dihubungkan ke tangki persis pada titik 0%-nya.
      Maka tekanan pada sisi high pada saat penuh adalah P = 1 x 3000mm = 3000mmH2O.
      Sehingga transmitter dikalibrasi dengan LRV=0mmH2O dan URV=3000mmH2O.
      Tapi jika transmitter di pasang di bawah tapping point-nya, maka URV-nya ditambah dengan tekanan hidrostatik pada ketinggian transmitter ke tapping point.

      Demikian semoga membantu.

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  51. Andika

    Selamat TahunBaru 2018 Kang Ade,Semoga Sehat selalu,diberi Kemudahan dlm segala urusan & tambah sukses..mau nanya 1) bgm cara merubah pembacaan dari linier ke sqroot di lcd field (transmitter FT foxboro IDP10-T46B06D-LIY). 2) cara mencari pressure yg di sqrootkan.maaf msh bljar tpi tugas krjanya tmbah berat..trimakasih sekali dg adanya grup Kang Ade ini,sngat membantu pekerjaanku.

    Reply
  52. rama

    gan saya mau tanya,error pada close system kan =sp-pv ,jadi pv dan mv itu berbanding terbalik,misalnya kita gunakan di control level,kalau level melebihi sp harusnya control valve terbuka,jika pv berbanding terbalik dengan mv ,maka saat level maksimal (pv = maks), sinyal keluaran akan minimum (mv = min) untuk kasus ini kita gunakan valve ATC karena saat sinyal minimal valve pembuangan akan terbuka,. yang saya tnyakan jika sistem seperti ini hrus menggunakan ATO bagaimana caranya? apa boleh mengubah rumus error, dari SP – PV menjadi PV – SP

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Dalam controller, ada fungsi untuk membalikkan aksi controller, yaitu direct dan reverse, yang biasanya disebut control action. Direct, jika error naik, maka output controller naik. Reverse, jika error naik, output controller naik. Rumus controller rasanya tidak bisa diubah, karena sudah paten tertanam dalam otaknya.

      Tergantung controller-nya, ada yang menggunakan metode direct error (error=SP-PV), ada juga yang menggunakan indirect error (error=PV-SP), untuk lebih jelasnya, bisa dilihat di manual controllernya. dia menggunakan yang mana. Karena penggunaan direct dan indirect error, akan menentukan istilah control action, yaitu direct dan reverse acting.

      Sederhananya begini, agar lebih cepat diingat:
      Direct Acting: jika PV naik, maka output controller akan naik
      Reverse Acting: Jika PV naik, maka output controller akan turun

      Contoh dari Mas Imam, ada sebuah vessel dipasangi control valve ATO untuk membuang liquid jika PV di atas SP.
      Artinya jika PV naik, output contoller harus naik agar control valve membuka. Dan jika PV turun, output controller harus turun agar control valve menutup. Maka controllernya di-set menggunakan Direct Acting.

      Jika control valve yang digunakan pada contoh di atas adalah ATC, maka:
      Jika PV naik, output controller harus turun agar control valve membuka. Dan jika PV turun, output controller harus naik agar control valve menutup. Maka controllernya di-set menggunakan Reverse Acting

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  53. Ariel

    Assalamualaikum author
    Permisi, mau ijin bertanya, saya sedang menulis untuk tugas akhir mengenai orifice yang digunakan untuk gas metering. untuk menghitung kapasitas max dan min harus mengetahui parameter Def. Press. , Pressure, dan temperature. Di HMI itu range limit untuk deferinsial press.l sebesar 2 – 200 inchi H2O dimana setelah saya hitung menghasilkan turn down ratio sebesar 10:1 dengan pressure dan temperature sama dan delta pressure max 200 dan min 2 inH2O. padahal secara praktek turn down ratio orifice sebesar 3:1
    apakah setting dr range di HMI terlalu besar? apakah mungkin orifice punya turn down ratio lebih dr 3:1? bagaiman cara menghitung kapasitas max dan min orifice?
    untuk parameter orifice D = 15″(diamter internal pipa) dan d=4.2″ (diameter bore). range di HMI delta press sebesar 2 – 200 inh2o, pressure 330 psig dan temperatur 66.8 F
    mohon bantuannya gan

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Wa ‘alaikum salam.
      Apakah DCS menampilkan DP atau flowrate hasil hitungan dari DP?
      Apakah kalkulasi flow dilakukan pada DCS atau flowcomputer?

      Bagi orang lapangan, cara termudah untuk melihat kemampuan ukur dari orifice (min/max) bisa dilihat dari datasheet-nya. Dari situ banyak informasi yang didapat, karena semua parameter yang digunakan biasanya tersaji dalam datasheet tersebut, termasuk min/max flow-nya.

      Menurut beberapa referensi yang pernah TeknisiInstrument baca, general practice turn down ratio untuk orifice umumnya 3:1 sampai 4:1

      Untuk menghitung kapasitas min/max flow dari orifice, formulanya panjang, sampai sayapun tidak hapal, hehehe… Tapi silakan coba buka link berikut:
      http://www.efunda.com/formulae/fluids/calc_orifice_flowmeter.cfm
      Ada satu parameter yang memberikan andil besar terhadap bagus tidaknya pengukuran dengan orifice, yaitu beta ratio, yang merupakan rasio antara ID orifice dan bore diameter, beta ratio yang bagus berkisar 0,2-0,7.

      Mohon maaf jawabannya mungkin ngelantur.

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  54. N.subhan

    assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatu
    salam kenal ,
    untuk teknisi instrument yg super kece ,saya mau diskusi tentang cara calibrasi untuk LT radar contact ,mohon pencerahanya

    Reply
  55. rama

    gan mau tanya,kalo di kilang RU itu kan ada safeguard (pengaman) itu mengamankan alat apa saja ya?

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Maaf, saya tidak familiar dengan kilang RU? RU itu apa ya?

      Tapi secara umum, safeguard adalah separangkat peralatan untuk menjaga agar plant beroperasi pada kondisi yang aman. Secara umum dibagi dua, Process Shutdown System dan Fire and Gas System.

      Intinya mengamankan manusia, peralatan/equipment dan lingkungan.

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  56. ricovery

    saya mau bertanya,ditempat saya ada control valve Pneumatik dan tidak mau bergerak sama sekali,pdhal sudah dikasih input dari DCS,langkah2 apa saja yang perlu saya lakukakan?.

    Terimakasih.

    Reply
  57. ricovery

    siang Pak ade

    Saya mau bertanya masalah control valve,bila control valve tidak bergerak dan sudah diberi input sinyal dari DCS tapi tdk mau bergerak sama sekali.positioner juga sdh saya ganti baru.langkah2 apa saja yg perlu saya lakukan.
    Terimaksih

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Met malam Pak Ricovery,
      Apakah sudah pernah dicoba untuk meng-inject tekanan udara langsung ke actuator-nya? Lihat spesifikasi actuatornya, jangan melebihi tekanan yang diijinkan jika ingin meng-inject tekanan udara ke actuator tersebut. Jika mekanisme valve-nya bagus, seharusnya valve mau bergerak. Jika tidak bergerak, mungkin mekanisme valve-nya ada gangguan, bisa macet di stem bagian bawah, bisa macet pada bagian packing antara bonnet dan plug dan macet pada bagian lainnya.

      Jika actuator mau bergerak dengan di-inject tekanan udara, kemungkinan positioner tidak terkalibrasi dengan baik terhadap control valve bersangkutan.

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  58. Andika katro

    Kang nanya,apakah dlm loop check ke DCS .PT,FT (udah terkalibrasi )hanya mengunakan hart 475,kita harus memasukan tag,Lrv,Ulv,damping krn di hart udah otomatis muncul harus disend atau tidak.2).setelah sy loop check dg memberi 4mA -20mA didcs ada terbaca indikasi tpi di transmiter site tidak terbaca/tdk berubah hanya zero aja.3).TT loopcheck mengunakan hart 475 tapi di hartnya tdk bisa on..sy coba cabel yg di TT ke dcs dibuka trus sy conek ke hart tetap nga bisa on itu bgm.trimks jwbanya Kang

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Kang Andika Katro,
      1. Salah satu loop check bisa dilakukan dengan hart comm, jika telah berhasil konek, kita tidak perlu setting apa-apa lagi pada transmitter bersangkutan, hanya masukin saja nilai output yang diinginkan, antara 4-20mA.

      2. Tergantung merk dan jenis transmitter-nya, saat loop check pada local display transmitter memang tidak menampilkan nilai, paling tulisan “LOOP TEST” atau sejenisnya.

      3. Yang tidak bisa ON itu apanya? HART comm-nya? atau tidak bisa konek?

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  59. Joy Fernando

    Selamat Pagi Pak,
    Mau nanya ni, Saya mau melakukan Loop test Pressure Transmitter di Project saya saat ini dengan menggunakan Hart Comm type 375.
    Brand : PDS SMART TRANSMITTER (Brand China)
    Type : PDS403H
    Kondisi instrument sudah power on dan tegangan terukur adalah 21VDC.
    Pada saat Hart comm di connected ke Field instrument, Hard tidak bisa mendetect sehingga tidak bisa dilakukan loop test. kemudian saya paralel pole + dari Pressure Transmitter dengan 250 0hm tetapi Hart 375 tetap tidak deteact.
    Kemudian saya paralel R 250 ohm nya terhadap PT (pole + dan -), hart bisa detect… Tetapi reading grafik di DCS tidak berubah sama sekali ketika di inject 4-20 mA dari field.
    Dan reading awal valuemya sudah melampaui URV ( Range 0 – 20 kpa. current reading : 23.7 kpa)

    Mohon advice nya pak untuk solve problem ini..

    Thanks & Rgds

    Joy Fernando

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Pak Joy,
      Salam kenal,
      Kalau transmitter sudah terhubung ke DCS biasanya tidak lagi memerlukan resistor 250 ohm, karena impedansi loop-nya sudah ada, kecuali jika impedansi loop di luar rentang impedansi yang dibutuhkan oleh HART.
      Jikapun ingin memasang resistor, dipasangnya seri dengan transmitter, urutannya: +DCS ke +transmitter, -transmitter ke resistor ke -DCS. Atau +DCS ke resistor ke +transmitter, -transmitter ke -DCS.

      Jika ragu, coba lepas transmitter dari loop ke DCS, kemudian coba rakit seperti pada link berikut:
      https://www.teknisiinstrument.com/2016/11/14/rangkaian-kalibrasi-transmitter/

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
      1. Joy Fernando

        Dear Pak,

        Terima kasih atas masukannya… kemungkinan PT brand cina ini adalah tidak support Hart alias KW walaupun di manual book di mentioned hart facilities.
        Dan solve untuk loop test nya adalah direct simulasi dari field instrument nya sendiri, dan setelah dicoba berhasil… tp hanya 3 poin saja (4mA, 12mA, 20mA) karena settingan dr fabrikan nya.

        Thanks pak n sukses terus

        Reply
  60. Anonim

    bang nanya dong, shutdown valve itu gimana sih cara kerjanya

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      SDV (Shutdown Valve) adalah sejenis valve yang difungsikan untuk membuat proess/plant/mesin shutdown atau mati. Umumnya dengan cara menutup inlet/outlet. SDV umumnya berpenggerak (ber-actautor) udara bertekanan (pneumatic). Cara kerjanya, ada sebuak aktuator yang diberi tekanan udara, saat ada tekanan udara, valve akan terbuka dan sebaliknya, saat tekanan udara dari aktuator dibuang, valve akan menuturp. tekanan udara (sinyal) diatur atau dikendalikan oleh controller (PLC/DCS/hardwire/shutdown system) melalui sebuah solenoid valve.

      Demikian sederhananya, semoga membantu.

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  61. Sarijan

    Calibrasi diworshop FT. Dikasihpower 24vdc,conek jg multimetee,Hart 475kemudian dikasih pressur (Dpi 610),4mA,8mA,12mA,16mA trus drop.terbaca autput Di multimeter dan hart 21mA.klo pembacaan diFTnya bagus.trus dikasih preser zero.output terbaca 3.8mA.tpi klo cable yg dimultimeter didiskonek,kemudian diconek lgi pembacaanya normal lgi 4-20mA.klo kita kasih preser lgi 4mA,8mA,12mA,kemudian drop lgi ke 21mA.itu bgm??trimks jwbnya.

    Reply
  62. Rifki

    Dear Kang teknisiinstrument,

    saya rifki fresh graduate instrument angkatan 41 saya mau nanya kang tolong di jelaskan apa itu Variable Frequency Drive, prinsip kerjanya dan contoh aplikasinya di dunia industri kang terima kasih banyak.

    best regards,

    rifki.

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Kang Rifki, Salam kenal.
      Variable Frequency Drive merupakan salah satu teknik untuk mengatur kecepatan motor AC. Dengan cara membuat frequently variable. Jadi kecepatan putaran motor dikendalikan dengan cara mengubah ubah frequency nya. VFD juga jadi nama alat. Biasanya dipalokasikan untuk menggerakkan beban motor listrik yang memerlukan putaran (atau gerak) yang variable. Misalnya starter turbin, conveyor, mesin bubut dll.

      Reply
  63. Bembi

    Asssalamualikum wr. Wb
    Izin bertanya kang. Saya pelajar stm jurusan instrumentasi. Kang maaf saya mintaa infonya tentang sistem kerja dari transmitter promag50 e+h pada penerapa loop flow. Mohon infonya terimakasih kang

    Reply
  64. Pembi

    Kang mau nanya sistem kerja transmitter e+h promass 80 gimana ya kang?

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*