Diskusi Bagian 1

Silakan masukkan komentar, bahan diskusi, sharing atau apapun mengenai Pengetahuan Umum Instrumentasi pada komentar di halaman ini.

Salam,

TeknisiInstrument

113 thoughts on “Diskusi Bagian 1

    1. TeknisiInstrument Post author

      Pak Sultan,
      Terima kasih atas usulannya. Usulan yang baik. Insya Allah kalau saya diberi kesempatan akan dibahas.

      Salam,
      TeknisiInstrument

  1. ahun

    Mas,tolong juga bahas hal2 yang sederhana. Seperti gimana cara memperbaiki colokan sambungan (extension), soalnya di rumah banyak yang rusak sekalian juga teori dasar dan prakteknya.

    1. TeknisiInstrument Post author

      Pak Ahun,
      Terima kasih sarannya.
      Sepertinya terlalu melebar jika sampai ke topik itu, dan saya kurang kompeten masalah kelistrikan. Bapak/Mas bisa coba buka blog teman saya, yang membahas khusus masalah kelistrikan rumah.
      http://www.instalasilistrikrumah.com/

      Salam,
      TeknisiInstrument

  2. ido

    pak saya mau bertanya apa itu fungsi DRYER untuk gas ?

    terima kasih.

    1. TeknisiInstrument Post author

      Dear Pak Ido,

      Kalau secara umum, fungsi dryer bisa dikatakan untuk mengeringkan gas. Tapi kering di sini, sangat tergantung.

      Seperti kita ketahui, kalau maksud Pak Ido adalah dryer pada gas untuk proses (misalnya gas alam yang didominasi metana), memiliki kandungan liquid tertentu. Dan jika gas yang diolah merupakan gas untuk dijual atau untuk keperluan lain seperti untuk menjadi feeder kompresor, maka harus memiliki kriteria “kering” tertentu. Sehingga gas dikeringkan dengan dryer.

      Jenis dryer-nya macam-macam, ada yang menggunakan liquid yang menyerap kandungan air dalam gas (seperti TEG/MEG), ada yang dengaan KO drum untuk meng-knock-out liquid dalam gas, ada yang menggunakan JT-valve yang mendinginkan gas dengan metoda pembentukan perbedaan tekanan sehingga terbentuk hidrat dan kemudian dipisahkan pada separator, ada yang menggunakan scrubber dan lain-lain.

      Maaf sebelumnya, saya kurang mengerti proses, yang diutarakan di atas hanya informasi ringan yang mungkin perlu pembelajaran mendalam.

      Hope this helps,
      Salam,
      TeknisiInstrument

      1. ido

        Terima kasih banyak pak,
        Sebelumnya perkenankan saya memperkenalkan diri pak,nama saya Ido dan saya bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak dibidang gas,Gas yang kita gunakan sendiri merupakan gas alam yang kita kompresi sampai 200Bar dan kemudian disimpan didalam tabung/storage untuk didistribusikan.Karna saya masih belum mengerti maka kemungkinan saya akan lebih banyak bertanya kepada bapak,saya harapkan bapak tidak merasa bosan dengan pertanyaan saya.

        Oh ya pak kembali kemasalah dryer tadi,Dryer yang kita gunakan disini semacam drum dan ada juga separator,dipanaskan dan didinginkan pak.

        Terima kasih.

        Wassalam.

        1. TeknisiInstrument Post author

          Pak Ido,
          Kembali kasih dan salam kenal kembali Pak.
          Terus terang, saya juga masih awam mengenai pemrosesan gas. Kalau ada yang saya ketahui, insya Allah dijawab, kalaupun tidak, mari kita diskusi bersama untuk mencari jawabannya 🙂

          Salam,
          TeknisiInstrument

  3. zuki

    salam kenal mas…sy teknisi instrumentasi di perusahaan paper. ada masalah di magnetic flow meter bacaan terkadang fluktuasi. bagaimana mengetahui atau menjelaskan bahwa flow meter tersebut benar-benar fluktuasi atau memang aliran fluidanya yg fluktuasi trus bgmn menghitung fluida flowmeter terhadap actualnya… mohon pencerahannya mas ..trimks

    1. TeknisiInstrument Post author

      Pak Zuki,
      Salam kenal kembali, memang tantangan seorang teknisi instrument adalah saat diminta membuktikan pengukuran patameter yang tidak terlihat. Apakah alat ukur tersebut akurat atau tidak. Tidak seperti halnya mengukur level yang relatif mudah membuktikannya.
      Coba saja periksa, mungkin ada benda asing yang mengganggu saluran aliran di dalam meter tersebut. Untuk membuktikannya, mungkin ada flowmeter portable sejenis ultrasonic clamp-on yang bisa dipasang tanpa mengubah piping.

      Salam,
      TeknisiInstrument

      1. Rizal Azmi

        pak zuki saya juga pernah mengalami hal serupa flow meter magnetic biasanya sangat rentan terhadap arus liar coba cek bagian kabel groundingya usahakan ditempelkaan di baut flangesnya, idealnya kabel grounding dapat kontak dengan fluidanya, dan betul apa kata pak TI sebaiknya coba bandingkan dengan flow meter lain seperti ultrasonic clam-on untuk make sure..

        salam,

  4. bayu

    assalamualaikum, kang bagaimana cara kalibrasi control valve menggunakan hart protocol , ?

    1. TeknisiInstrument Post author

      Wa ‘alaikum salam.
      Jika menggunakan HART Communicator, setelah HART Comm. online dengan positioner (valve): Misalnya positioner FieldVue
      – Out-of-service-kan dulu valve.
      – Kemudian masuk ke mode kalibrasi.
      – Bisa dilakukan dengan mode digital atau analog.
      – Tinggal ikuti petunjuk dari HART Comm yang tampil.

      Setiap manufacturer mungkin memiliki menu berbeda pada hart comm. tergantung dari DD file-nya.

      Cara yang ampuh salah satunya adalah dengan membaca manual book-nya, dan mempelajarinya.

      Salam,
      TeknsisiInstrument

  5. Taufik Syahrial

    Ass. kang mau tanya nih…
    Pada Control Valve di tempat saya kerja,terdapat PCV 8″ 600,memakai booster regulator dan Positioner,yg dpt dicontrol melalui DCS,kenapa PCV tersebut sering kali menutup sendiri,saya udah coba bersihkan regulator nya,power utk positioner udah saya check,sebua bagus,kira2 apa penyebabnya kang,kalau ada solusi nya tolong dibantu ya.
    Makasih sebelumnya kang.

    1. TeknisiInstrument Post author

      Wa ‘alikum salam wrwb.
      Salam kenal Kang Taufik Syahrial,
      Apakah control valve tersebut menerima sinyal 4-20mA atau HART atau sinyal lainnya?

      Asumsi saya, 4-20mA.
      Mungkin bisa dicoba memecah masalah, apakah DCS-nya atau control valve-nya (beserta akesosiri).

      Jika memungkinkan, coba amati karakteristik parameter-parameter kontrolnya, pada nilai PV (Process Variable) berapa control valve menutup, apakah selalu pada nilai yang sama? Jika ya, coba periksa logic (program) pada DCS-nya, mungkin ada interlock yang aktif pada nilai PV tertentu, Kemudian coba diukur tegangan pada terminal di positioner saat control valve menutup. Bandingkan dengan minimum voltage requirement pada positioner, jika lebih rendah, kemungkinan power supply pada analog output DCS overload, atau ada intermittent load, atau mungkin loose connection sesaat.

      Kedua, jika memungkinkan, coba manual-kan control (PID?) pada DCS, siapkan operator untuk meng-operate process secara manual melalui bypass valve. Kemudian out-of-service-kan control valve, kemudian lakukan stroke test dari DCS, atau external miliampere source. Amati, apakah terjadi control valve menutup? Jika di stroke test dari DCS terjadi control valve menutup, kemungkinan ada “sesuatu” dengan analog outputnya atau wiringnya, atau mungkin juga positioner-nya. Jika di stroke test dari external miliampere source, kemudian terjadi control valve menutup, kemungkinan positiner-nya yang bermasalah

      Asumsi di atas mengacu pada info dari Kang Taufik, bahwa semua komponen air system (pressure regulator dll) sudah diperiksa dan bagus.

      Ketiga, jika control valve tersebut dipasang pada critical process, biasanya dipasangi shutoff solenoid untuk menutup air supply saat terjadi emergency, fire misalnya. Jika ya, coba periksa solenoid (jika ada).

      Semoga membantu.

      Salam,
      TeknisiInstrument

      [disclaimer: respon ini bukan merupakan panduan, hanya sumbang saran, TeknisiInstrument tidak bertanggung jawab atas segala kerugian yang mungkin timbul dari tulisan ini 🙂 ]

  6. Taufik Syahrial

    makasih gan infonya. control valve menerima sinyal 4-20 mA. Saran kedua dari akang adalah langkah yg saya ambil jika terjadi control valve itu menutup sendiri. Operator mengoperasikan control valve secara manual. Pernah jg saya lakukan penggantian positioner dari Control valve yg lain,tp msh saja terjadi kang.

    1. TeknisiInstrument Post author

      Coba aja di-stroke dulu pake external miliampere source.
      Good luck.

      Salam,
      TeknisiInstrument

  7. nurhadi

    Mas TeknisiInstrument

    Ajarin dong tentang besarnya flow air umpan boiler dengan besarnya flow uap yang di keluarkan oleh boiler dalam ton/ jam yang dipakai untuk menggerakan Turbine, yang mana transmitter yang di gunakan adalah DP 3051 Rosemount.

    Terimakasih Sebelumnya

    1. TeknisiInstrument Post author

      Mas Nurhadi,
      Sebelumnya saya ucapkan terima kasih sudah mampir di blog ini.
      Saya asumsikan sensing element-nya berupa orifice. DP transmitter mengukur perbedaan tekanan yang timbul di sisi atas (upstream) dan sisi bawah (downstream) dari orifice. Besarnya perbedaan tekanan diantara kedua titik tersebut akan berbanding (walau tidak berbanding lurus) dengan besarnya floweate (umumnya volume per waktu). Semakin besar flowrate-nya, maka akan semakin besar perbedaan tekanan (pressure drop) diantara kedua titik tersebut.
      Untuk referensi, silakan baca-baca di sini: http://www.efunda.com/formulae/fluids/calc_orifice_flowmeter.cfm

      Salam,
      TeknisiInstrument

  8. mimin unix

    boleh dong di kasi tau, seumpama saya kuliah di ilmu instrumentasi prospek kerjanya apa ya>

    1. TeknisiInstrument Post author

      Dear Mimin Unix,
      Menurut saya, dimana ada ilmu pengukuran (measurement), pengendalian (Controls), analisis (analize). Insya Allah di situ ada lahan untuk instrumentasi.

      maksudnya, jika perusahaan/industri yang didalamnya ada kegiatan seperti di atas, insya Allah Teknisi/Insinyur Instrumentasi diperlukan.

      Bisa di industri farmasi, petrokimia, tambang, minyak dan gas bumi, manufaktur, perusahaan sertifikasi kalibrasi, pengolahan limbah, pulp and paper, dan lain-lain.

      Semoga membantu.

      Salam,
      TeknisiInstrument

  9. pesona

    LANGSUNG SAJA YA,,terima kasih kalau pertanyaan saya di jawab dengan jelas,,,,apa fungsi snubber pada pressure guage,,dan dalam tekanan berapa pressure guage harus di beri snubber (dampner).dengan pressure 2 kg/cm2 apa perlu menggunakan snubber?mksh

    1. TeknisiInstrument Post author

      Pak Pesona,
      Terima kasih atas kunjungannya ke blog ini.
      Snubber (dampner), berfungsi untuk meredam lonjakan tekanan mendadak sehingga sensing element pada pressure gauge tidak menderita akibat perubahan tekanan mendadak. Biasanya dipasang pada tekanan yang fluktuatif secara cepat (spike). Saya tidak memiliki referensi tekanan berapa harus dipasang snubber, setahu saya, selama itu tekanan spike, maka bisa dipertimbangkan untuk menggunakan snubber. mohon maaf tidak bisa memberi jawaban lengkap dengan data.

      Salam,
      TeknisiInstrument

  10. pesona

    dan juga bagaimana kita bisa membedakan kalau tubing itu berisi air atau udara? dan bagaimana cara kita mengetahui berapa pressure yang di lalui pada sebuah aliran sehingga kita bisa tau aliran ini membutuhkan pressure sebesar……….kg/cm2

    1. TeknisiInstrument Post author

      Pak Pesona,
      Terus terang saja, saya belum pernah tahu cara mengetahui isi dari tubing (stainless steel), selain dengan membukanya, pada titik drain untuk liquid atau titik venting pada sistem tekanan gas. Saya pun belum pernah tahu cara untuk mengetahui tekanan pada sebuah sistem aliran, kecuali dengan menggunakan pressure gauge.

      Atau, jika ada, silakan mengacu pada P&ID (Piping & INstrumentation Diagram), di dalam dokumen tersebut biasanya tercantum operating pressure dan MAWP-nya (Maximum Allowable Working Pressure), juga jenis fluida apa yang ada di dalam sistem piping/tubing/vessel tersebut.

      Salam,
      TeknisiInstrument

  11. Andi Ardiansyah

    assalammualaikum wr.wb mas, saya Andi.
    saya ingin bertanya ketika kita sedang mengkalibrasi CV inputan sinyal pneumatic (ada I/P transducernya) sekiranya masalah apa yg mungkin terjadi dan bagaimana troubleshootingnya.

    andiravens@gmail.com
    Terimakasih

    1. TeknisiInstrument Post author

      Wa ‘alaikum salam wrwb.
      Pak Andi Ardiansyah, Apakah CV yang Pak Andi maksud adalah Control Valve?
      Jika control valve, apakah menggunakan positioner? Kemudian yang dimaksud di sini, troubleshooting untuk I/P transducer atau control valve-nya?

      Ijinkan saya untuk berasumsi:
      MIsalnya troubleshoot untuk I/P converter saja.
      I/P converter berfungsi untuk mengkonversi/mengubah sinyal arus listrik (4-20mA, misalnya), menjadi sinyal pneumatik (3-15 psi). Masalah yang timbul misalnya tekanan keluaran tidak linear, silakan coba periksa pneupatic relay-nya, atau bagian LVDT-nya, tergantung jenis converternya.
      Jika tekanan keluaran mentok pada nilai tertentu tidak mau naik sampai 15 PSI maksimumnya, silakan periksa air supply-nya mungkin kurang, atau saluran-nya ada yang tersumbat.

      Misalnya troubleshoot control valve yang dilengkapi dengan positioner.
      silakan coba stroke test dulu, dengan external signal source, jika memungkinkan, atau bisa di-stroke dari controller/DCS secara, tentunya dengan membuat controller menjadi manual dulu, silakan diskusikan dengan operator, apakah mengganggu prosess atau tidak.

      Jika travel (pergerakan stem) tidak sesuai dengan sinyal perintah, silakan lakukan kalibrasi dulu. Untuk positioner sekarang ini, biasanya memiliki fitur auto calib, silakan gunakan fitur tersebut,

      Jika setelah dikalibrasi ternyata travel dengan sinyal perintah tidak sama juga, silakan lakukan konfigurasi awal (jika menggunakan positioner yang cukup canggih seperti Fisher DVC 6000 serries).
      Pada konfigurasi awal ini, semua parameter yang diperlukan akan di-setting/di-adjust agar memenuhi persyaratan yang diperlukan untuk keperluan control valve sesuai dengan jenis actuatornya, termasuk travel sensor-nya, air supply, mid point-nya minimum stroke, max stroke dll.

      Semoga membantu,

      Salam,
      TeknisiInstrument

    2. renzo

      assalamualaikum wr.wb pak ade
      nama saya renzo,mahasiswa semeter 7
      kosentrasi elektronika instrumentasi
      bapak punya referensi tentang sistem distribusi instrument pengolahan limbah ke water pump ?
      ini untuk tugas akhir saya pak
      mohon bantuannya pak
      kirim ke email saya jawabannya ya pak
      renzokamil@gmail.com

      1. TeknisiInstrument Post author

        Wa ‘alaikum salam wrwb.
        Kang Renzo, salam kenal. Kebetulan saya belum pernah berkecimpung dalam bidang pengolahan limbah. Tapi jika ada penjelasan permasalahan secara spesifik, insya Allah kita bisa berdiskusi. Misalnya masalah apa yang akan ditangani, apa permasalahan spesifiknya.

        Salam,
        TeknisiInstrument

  12. Herbert

    Slmt mlm kang Ade,sy mau tanya nih…
    mengapa dp transmitter menggunakan 3 valve manifold dan bagaimana cara mengkalibrasi transmitter tsb menggunakan HART Comm.
    Mohon jawaban nya mas…

    Haturnuhun…

    1. TeknisiInstrument Post author

      Selamat Malam Kang Herbert.
      DP transmitter menggunakan tiga buah valve (ada juga yang lima buah valve), yang biasanya ketiga valve tersebut terintegrasi. Terdiri dari dua buah isolation valve dan satu buah equalizing valve.
      Isolation valve berfungsi untuk memutus hubungan antara process connection dengan transmitter, satu buah isolation valve untuk HP (high pressure) line, dan satu buah lagi untuk LP (low pressure) line.
      Equalizing valve berfungsi untuk menghubungkan sisi HP dan sisi LP. Hal ini digunakan saat akan meng-offline-kan dan meng-online-kan transmitter (atau DP element lainnya), agar tidak terjadi hentakan pressure pada sensing elementnya. Juga digunakan pada saat melakukan zero check transmitter.

      Mengenai cara kalibrasi dengan menggunakan HART comm. struktur menu-nya mungkin berbeda antara merk satu dengan merk lainnya.
      Namun secara umum (asumsi transmitter sudah dikonfigurasi sesuai dengan kebutuhan):
      1. Lakukan zero check. lakukan sensor trim jika diperlukan
      2. Lakukan cek kalibrasi LRV dan URV, lakukan kalibrasi jika diperlukan.
      3. Lakukan output chek (4-20mA), lakukan kalibrasi jika diperlukan.

      Mengenai detailnya, tergantung dari merk dan tipe transmitternya, biasanya dijelaskan secara gamblang di manual book.

      Salam,
      TeknisiInstrument

  13. Herbert

    Satu lg pertanyaan sy kang, mengapa/ kapan digunakan magnetic flow meter?
    Mohon jawaban nya mas…
    Terima kasih…

  14. mase

    assalammualaikum wr.wb
    sebelumnya terimakasih banyak atas blog yg anda buat ini sangat bermanfaat untuk semua. langsung saja ya pak,saya mau tanya bagaimana cara kalibrasi pressure guage dengan DWT? Dan tahap2 kalibrasinya bagaimana?terimakasih,wasalam

    1. TeknisiInstrument Post author

      Wa ‘alaikum salam wrwb.
      Kembali kasih dan terima kasih kembali atas dukungannya 🙂 .

      Untuk mengkalibrasi pressure gauge, kita harus yakinkan dulu apakah pressure gauge tersebut bisa dikalibrasi ulang atau tidak, silakan baca manual book-nya.
      Setelah yakin bisa dikalibrasi ulang, maka proses kalibrasi bisa dilakukan.

      1. Jika pressure gauge-nya memiliki liquid filler (semaca gliserin), ada baiknya dibuang dulu, dan siapkan penggantinya.
      2. Identifikasi dulu zero dan span adjuster pada pressure gauge.
      3. Siapkan pemberat DWT untu bisa mengakomodasi 25%, 50% 75% dan 100% dari span pressure gauge.
      4. Pasang pressure gauge pada DWT (silakan baca buku manual cara pengoperasian DWT yang bersangkutan, mengenai pada port mana pressure gauge harus dipasang).
      5. Dengan piston DWT tanpa beban, mainkan pemompa DWT agar piston-nya menjadi floating, bisa dirasakan dengan memutar2 pistonnya, jangan sampai bergesekan dengan penyangga piston.
      6. Baca dan catat penunjukan PG (pressure gauge) pada saat tanpa beban, atur zero adjuster agar bacaan PG=0%.
      7. Pasang pemberat untuk 100% span dari PG.
      8. Pompa DWT agar piston pada pemberat menjadi floating/mengambang, sehingga pemberat dan piston hanya disangga oleh oli, bukan oleh penyangga/dudukan piston.
      9. Baca dan catat penunjukkan PG, atur span adjuater pada PG untuk mendapatkan penunjukkan 100%.
      10. Ulangi langkah 5-9 sehingga didapat pembacaan konsisten antara 0% dan 100%.
      11. Pasang pemberat untuk 25% span, catat penjunjukkan PG, harus 25%.
      12. Ulangi langkah 11 untuk 0%, 25%, 50%, 75% dan 100%.
      13. Buat grafik pembacaan pada langah 12, bandingkan dengan spesifikasi yang terdapat pada manual book PG bersangkutan, jika sudah keluar dari speknya, berarti PG tersebut sudah saatnya pensiun hehehe.

      Sebagai bacaan, ada tulisan yang mungkin bisa membantu:
      http://web.cecs.pdx.edu/~gerry/class/EAS361/lab/pdf/lab2_pressureGages.pdf

      NB: Ada baiknya, sebelum melakukan kalibrasi, didapatkan juga bacaan as-found-nya untuk mendapatkan data agar kita bisa membandingkan sebelum dan sesudah kalibrasi.

      Note: Ini bukan panduan/prosedur resmi, bisa cocok ataupun tidak dengan PG dan/atau DWT yang Anda gunakan. Silakan baca kembali manual book PG dan DWT yang Anda gunakan agar prosedurnya lebih valid. TeknisiInstrument tidak bertanggung jawab atas segala sesuatu yang mungkin timbul dari tulisan ini 🙂
      Ikuti prosedur PTW pada perusahaan Anda, dan gunakan APT (Alat Pelindung DIri) atau PPE (Personal Protective Equipment) untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

      Semoga membantu.
      Salam,
      TeknisiInstrument

  15. Jonpati damanik

    Pak aq mau nanya cara kalibrasi flow transmiter

    1. TeknisiInstrument Post author

      Pak Jonpati Damanik,
      Merk dan model apakah flow transmitter yang digunakan?
      Apakah sudah coba baca manual booknya?

      Salam,
      TeknisiInstrument

  16. Rizal

    Slamat pagi pak,,
    ne aq mw nanya
    jika penunjukan kontroller pada fuel gate tidak sama dengan penunjukan presure gauge yang ada di boiler maka yang harus di setting apanya ya pak,,??

    1. TeknisiInstrument Post author

      Pak Rizal,
      selamat malam.
      Wah… saya tidak familiar dengan fuel control pada boiler.
      Mungkin jika ada skema sistem atau P&ID-nya saya bisa ikut berfikir.

      Secara umum, jika kita ingin membandingkan dua parameter pada titik yang berbeda, ada baiknya menggunakan alat ukur yang sama dulu, misalnya dengan menggunakan test gauge yang sama, nanti hasilnya dibandingkan, jika hasil bacaan-nya berbeda, berarti memang kondisi tekanan/pressurenya sedang berbeda, maka bisa kita lakukan adjusment di sistem tersebut, apakah menaikkan atau menurunkan salah satu parameter yang kita bandingkan.
      Jika hasil pengukuran dengan test gauge yang sama ternyata bacaaannya sama, dan bacaan pada controller dan pressure gauge berbeda, mungkin salah satu alat ukur (controller atau pressure gauge) tersebut perlu dikalibrasi ulang atau bahkan diganti.

      Salam,
      TeknisiInstrument

  17. andi ardiansyah

    Pagi kang Ade, senang rasanya tiap berkunjung kesini
    karena selalu ada aja yg dibahas dan itu menambah wawasan saya

    tapi seketika ada yg mengganjal hati saya, langsung saja saya ingin menanyakan
    kenapa ya, pada HP/LP drum (di HRSG) line input untuk bagian HP/LP line di transmitter kenapa di letakkan terbalik ya ??

    high untuk posisi bawah dan low posisi atas

    1. TeknisiInstrument Post author

      Met Siang Pak Andi,
      Salam kenal.
      Apakah ada P&ID nya? saya tidak familiar HRSG, kalau ada gambar, mungkin bisa dijadikan bahan diskusi.

      Salam,
      TeknisiInstrument

  18. Novriandy

    Kang Ade,

    Mohon sharing formula perhitungan untuk mengkalibrasi DP transmitter dengan fungsi square root untuk pengukuran flowrate liquid gas nih, saya lupa perhitungan akar2nya supaya mendapatkan 4 mA, 8mA, 12 mA, 16 mA, dan 20 mA pada pressure brp…

    Terima kasih sebelumnya..

  19. TeknisiInstrument Post author

    Kang Novriandy,
    Apakah ini yang dimaksud:

    mA = {sqrt(%input/100)*16} + 4

    %input = input transmitter dalam persen
    mA = output transmitter dalam miliampere

    Misal untuk input 25%:
    mA = {sqrt(25/100)*16} + 4 = 8 + 4 = 12mA

    Misal untuk input 50%:
    mA = {sqrt(50/100)*16} + 4 = 11,31 + 4 = 15,31mA

    Misal untuk input 75%:
    mA = {sqrt(75/100)*16} + 4 = 13,86 + 4 = 17,86mA

    Misal untuk input 88%:
    mA = {sqrt(88/100)*16} + 4 = 15,0093 + 4 = 19,0093mA

    Misal untuk input 99%:
    mA = {sqrt(99/100)*16} + 4 = 15,9198 + 4 = 19,9198mA

    Salam,
    TeknisiInstrument

    1. Novriandy

      Kang Ade,

      Trims infonya. Saya mau kalibrasi DP transmitter range 0 – 100 inH2O. Saya lupa formulanya utk menghitung pada pressure brp harus di inject utk mendapatkan 8 mA, 12mA, 16 mA, 20 mA?

      1. TeknisiInstrument Post author

        Kang Novriandy,
        Formulanya sudah ditulis pada komentar di atas:
        mA = {sqrt(%input/100)*16} + 4

        Misalnya jika range input transmitter adalah 0-100inH2O, maka:
        0%=0inH2O; 25%=25inH2O dst.

        Misal untuk input 25% (25inH2O):
        mA = {sqrt(25/100)*16} + 4 = 8 + 4 = 12mA

        Misal untuk input 50% (50inH2O):
        mA = {sqrt(50/100)*16} + 4 = 11,31 + 4 = 15,31mA

        dst.

        Salam,
        TeknisiInstrument

    1. TeknisiInstrument Post author

      Pak Wibowo,
      Salam kenal. Email saya teknisiinstrument[at]teknisiinstrument[titik]com

      Salam,
      TeknisiInstrument

  20. Martina olivia

    salam kenal pak,
    Pak , bagimana sistem kerja ultarsonik level sensor mengubah peizo elektric tranducer bisa menjadi angka ketinggian dari cairan sedangkan itu menggunakan gelombang suara?

    1. TeknisiInstrument Post author

      Mbak Martina Olivia, salam kenal.

      Ultrasonic level transmitter bekerja berdasarkan gelombang ultrasonic. Pada transmiiter tersebut terdapat pemancar dan penerima gelombang ultrasonic. jika disederhanakan, sebut saja pemancarnya berupa speaker dan penerimanya berupa microphone (biar mudah dibayangkan). Ultrasonic level transmitter biasanya dipasang di atas benda yang diukur ketinggiannya (misalnya di atas tangki). Gelombang ultrasonic dipancarkan oleh pemancar, kemudian jika terhalang oleh benda yang diukur ketinggiannya, gelombang tersebut terpantulkan, kembali ke atas, dan dideteksi oleh penerima, kemudian pulsa/gelombang yang diterima tersebut dikalkulasi oleh perangkat microprocessor (jika memakai teknologi sekarang). Yang diukur sebenarnya waktu tempuh gelombang tersebut, jika kecepatan ultrasonic di udara diketahui, maka kecepatan ultrasonic dibagi dengan waktu tempuh akan sama dengan jarak yang ditempuh oleh ultrasonic tersebut, karena jarak yang ditempuh adalah dua kalinya (pancaran dan pantulan) maka jarak sebenarnya adalah wkatu tempuh dibagi dua. Jika sudah berupa sinyal yang diolah, maka microprocessor bisa mengkalkulasi dan menampilkannya pada dispaly (jika dilengkapi dengan display) dan mengirimkan sinyal analog ke controller (misalnya) atau DCS/PLC.

      Ada artikel yang bagus, bisa dicheck di sini:
      http://www.coulton.com/beginners_guide_to_ultrasonic_level_transmitters.html
      http://www.indumart.com/Level-measurement-4.pdf

      Salam,
      TeknisiInstrument

  21. Novriandy

    Mau sharing nih kang,

    Saya punya temp transmitter range 0 – 200 deg F. Saat di inject resistance dengan Fluke 726 ternyata analog output signal kurang OK. Saat kondisi 0 deg F = 4 mA tapi transmitter output keluarnya 4,31 mA bgitu sampai 20 mA. Mohon sharing cara kalibrasinya dgn Hart Comm. Saya pakai Hart Comm 475. Apakah harus di D/A trim? Saya blm pernah kalibrasi temp transmitter..

    Trims sebelumnya…

    1. TeknisiInstrument Post author

      Pak Novriandy,
      Coba di DA trim dulu. Atau, coba ukur resistansi yang dikeluarkan oleh Fluke 726, mungkin malah fluke 726-nya yang tidak mengeluarkan resistansi yang benar.

      Salam,
      TeknisiInstrument

      1. Novriandy

        Pak Ade,

        Saya belum pernah coba D/A trim. Kalau yg saya baca di manual book D/A trim tidak perlu di ksih input resistance ya? Kita cm ukur keluaran mA aja kemudian baru Hart Comm yg kerja.. Apakah benar begitu?

        Sebelumnya resistance RTD saya ukur kemudian saya konek RTD dgn Fluke 726 dan transmitter. Pembacaan antara Fluke 726 dan tranmsitter berbeda 5 derajat. Kalau liat di table Resistance vs Temp maka pembacaan Fluke 726 yg mendekati dibanding transmitter yg berbeda 5 derajat terhadap table. Jadi saya berkesimpulan Fluke 726 bagus, dan transmsitter reading yg jelek.

        1. TeknisiInstrument Post author

          Pak Novriandy,
          Betul, DA trim tidak perlu input résistansi dari RTD atau stimulator. Hanya meng-adjust digital to analog converter di dalam transmitter. Setelah di DA trim, coba lakukan loop check dengan hart comm. Jika output nya sesuai dengan nilai loop check, coba pakai Fixed resistor 100 ohm. Output jika dikonversikan ke temperatur harus 0degC atau 32degF.

          Saat memasang RTD atau stimulator pada transmitter, harus sesuai konfigurasi nya, apakah pakai 3 wire atau 4 wire.

          Salam,
          TeknisiInstrument

  22. Novriandy

    Pak Ade,

    Ok trims. Tahap 1. DA trim 2. Loop Check 3. Inject resistance. Untuk RTD, kita gunakan 3 wire. Akan saya coba terlebih dahulu.

    salam,
    ND

  23. Angga

    Mas, temanku baru saja design instrument pneumatic yang isinya antara lain valve shuttle, valve flow control, filter, presure gauge dan rencananya mau di lanjut dirakit di kedalam box steinless steel, pertanyaannya mas punya teman gak yang bisa direferensikan untuk ngebuat panel instrument pneumatic ini, tolong pencerahannya mas..Wassalam dari Angga

  24. Angga

    Salam kenal juga Mas, terima kasih saya menunggu kabarnya. Wassalam

  25. Marsya

    Pak Ade,
    saya Marsya jurusan teknik kimia semester 2. saya mau bertanya pak, mengenai transmitter karena saya baru mendapat materi insterument ini. tapi saya masih bingung mengenai ini :

    – perbedaan transmitter pneumatic dengan transmitter electric itu bagaimana ya pak?
    – lalu apakah besaran yang diukur transmitter electric dan pneumatic sama (level, temperature, pressure, dan flow)?
    – keuntungan dan kerugian menggunakan electric transmitter itu bagimana?
    – apakah bagian2 pada flow, pressure, temperature, level transmitter baik pada pneumatic dan electric transmitter itu berbeda?
    – untuk perawatan transmitter pneumatic dan electric itu sendiri apa hanya dengan kalibrasi ?
    – komponen fungsional pada flow, pressure, temperature, level itu apa saja ?
    – lalu ada Differential pressure Transmitter, apa itu termasuk dalam pressure transmitter atau bagaimana?

    terimakasih pak mohon penjelasannya

  26. TeknisiInstrument Post author

    Mbak Marsya (atau Mas, mohon maaf jika salah),
    Salam kenal. Terima kasih sudah mampir di blog TeknisiInstrument.
    Sebelumnya, mohon maaf kalau pendapat yang ditulis tidak sesuai dengan yang diharapkan hehe. TeknisiInstrument akan mencoba untuk berpendapat, bisa salah, bisa benar…

    Marsya :

    – perbedaan transmitter pneumatic dengan transmitter electric itu bagaimana ya pak?

    Transmitter pneumatic menggunakan media pneumatic (udara bertekanan, atau udara yang dikompresi, seperti ‘angin’ pada tukang tambal ban hehe), sebagai media transmisi sinyal, menggunakan range 3-15 psi (0,2-1 kg/cm2) sebagai representasi dari sinyal 0-100%. Sedangkan transmitter elektronik menggunakan media elektronik/listrik untuk mentransmisikan sinyal, umumnya menggunakan arus listrik dengan rentang 4-20mA sebagai representasi dari sinyal 0-100%

    Marsya :

    – lalu apakah besaran yang diukur transmitter electric dan pneumatic sama (level, temperature, pressure, dan flow)?

    Besarannya sama, tergantung besaran apa yang akan diukur, yang membedakan hanya sensing device-nya, dan computing/manipulating element-nya

    Marsya :

    – keuntungan dan kerugian menggunakan electric transmitter itu bagimana?

    Keuntungan electronic transmitter: relatif mudah saat pemasangan, mudah saat perawatan, mendukung komumunikasi digital, tidak terlalu banyak moving part, sehingga kegagalan akibat error mekanis bisa diperkecil/dihilangkan. Kerugian: Harus menggunakan pendukung/rangkaian Intrinsically Safe (IS circuit) agar bisa dipasang di tempat yang memiliki paparan gas/material mudah terbakar,(mungkin) lebih mahal.

    Keuntungan pneumatic transmitter: Bisa dipasang di tempat yang memiliki paparan gas/material mudah terbakar, karena tidak memiliki sumber percikan akibat listrik. Komponennya bisa dikanibal jika diperlukan. dll. Kerugian: Jadul hehe, tidak bisa diintegrasikan dengan DCS/PLC/controller electronic modern secara langsung, dll.

    Marsya :

    – apakah bagian2 pada flow, pressure, temperature, level transmitter baik pada pneumatic dan electric transmitter itu berbeda?

    Secara prinsip sama saja, yang membedakan hanya jenis komponennya saja, serta media sinyal yang diolah. Umumya terdiri dari sensing element dan transmitter-nya itu sendiri. Hanya saja yang electronic sudah ada yang memiliki fitur tambahan, seperti komunikasi digital dll.

    Marsya :

    – untuk perawatan transmitter pneumatic dan electric itu sendiri apa hanya dengan kalibrasi?

    Kalibrasi, function test, loop check, visual check (untuk melihat kerusakan fisik), dll

    Marsya :

    – komponen fungsional pada flow, pressure, temperature, level itu apa saja?

    Terus terang, saya tidak mengerti pertanyaannya hehehe, maaf…

    Marsya :

    – lalu ada Differential pressure Transmitter, apa itu termasuk dalam pressure transmitter atau bagaimana?

    Ya, menurut TeknisiInstrument, differential pressure transmitter termasuk ke dalam pressure transmitter. Differential pressure transmitter mengukur perbedaan tekanan antara dua titik pengukuran. sedangkan pressure transmitter hanya mengukur static pressure satu titik pengukuran.

    Marsya :

    terimakasih pak mohon penjelasannya

    Sama-sama 🙂

    Itu hanya pendapat TeknisiInstrument, sangat mungkin salah dan keluar dari kaidah instrumentasi yang benar.
    Mohon maaf jika pendapatnya ngelantur 🙂

    catatan:
    saat diketik, pendapat tersebut tidak dibaca ulang, sangat mungkin banyak salah ketok, dan bahasa struktur sesuai tidak dengan EYD 🙂

    Salam,
    TeknisiInstrument

  27. Marsya

    Terimakasih pak atas jawabannya. Wah saya mulai faham sebagai pemula. Ini sangat berguna sebagai pemula seperti saya untuk belajar instrumentasi lebih dalam 😀

  28. Marsya

    Pak,
    Diagram Prinsip kerja Electric Transmitter :

    Input DP -> meter Body ->Beam Rider-> Beam-> detector Coil ->OPD Unit-> Out Current
    | ^ |
    | Force | |
    | Power Supplay |
    | |
    | |
    |______Magnet Unit __________|

    Saya membaca Literatur dr pertamina “Dasar Instrumentasi dan Kontrol” nah disitu saya menemukan prinsip kerja electric transmitter anggap saja spt diagram diatas. nah saya bingung pak dengan prinsipnya karena penjelasannya tidak sesuai gambar. Bisa jelaskan ke saya pak mengenai diagram diatas ?
    Lalu apa Perbedaan Beam Rider dengan Beam?
    OPD Unit itu apa ya pak?
    terimakasih

    1. TeknisiInstrument Post author

      Mbak Marsya (betul ya, Mbak? 🙂 )
      Kalau ada gambar atau dokumennya, mungkin bisa dikirim ke TeknisiInstrument, agar bisa ikutan membaca dan mencoba untuk memahami dokumen tersebut.
      Coba kirim ke teknisiinstrument[at]teknisiinstrument[titik]com

      Salam,
      TeknisiInstrument

      1. TeknisiInstrument Post author

        Mbak Marsya,
        Gambarnya sudah saya terima, dari 2 gambar yang dikirim, Menurut pemahaman TeknisiInstrument, Gambar 1 adalah blok diagram untuk electronic differential pressure transmitter, sedangkan gambar 2 adalah blok diagram untuk peneumatic differential pressure transmitter.

        Ada artikel bagus yang menjelaskan keduanya. Mohon tidak terpaku kepada istilah penamaan, silakan disesuaikan.

        Silahkan ikuti link berikut sebagai referensi:
        http://iamechatronics.com/notes/general-engineering/315-force-balance-pressure-transmitters

        Salam,
        TeknisiInstrument

  29. Alvin Husein Ghazali

    Salam Kang Ade,

    Saya baru menjajahi dunia teknisi untuk Instrumentasi Safety, Occupational Health & Environment
    Saya sangat terbantu oleh tulisan tulisan kang ade (terutama yang penggunaan arus 4-20 mA)
    saya mau bertanya kang,seberapa penting pengukuran getaran mesin yang menghasilkan data nilai Displacement, Velocity, Acceleration, RMS, Peak-Peak pada maintance mesin?
    dan seberapa penting juga Fast Fourier Transform pada analisa getaran mesin?
    apakah bisa digunakan untuk predictive maintance?

    mohon pencerahannya kang ade, nuhun kang

    Salam,

    Alvin Husein Ghazali
    Technical Support
    alvinhuseinghazali@yahoo.com

    PS : melihat wordpress kang ade, saya juga tertarik untuk membuat wordpress untuk membahas instrumentasi alat alat Safety, Occupational Health & Environment.
    semoga kita bisa bekerja sama nantinya 😉

    1. TeknisiInstrument Post author

      Pak Alvin Husein Ghazali,
      Salam kenal kembali.
      Alhamdulillah kalau tulisan di blog ini bisa bermanfaat 🙂
      Pengukuran getaran mesin (vibration monitoring) memang sangat berguna untuk menjaga mesin (mesin berputar, misalnya turbine) agar beroperasi pada keadaan optimum dan aman. Ada istilah yang pernah saya dengan mengenai vibration monitoring ini, istilah tersebut adalah COMO (Condition Monitoring). Dan saya terus terang saja, sangat awam mengenai masalah ini hehe.

      TeknisiInstrument juga pernah mendengar Fast Fourier Transform yang berfungsi untuk menganalisis vibrasi sebuah mesin. Dan lagi-lagi, TeknisiInstrument sangat awam mengenai ini hehe (lagi) 😀

      Kegiatan COMO dimaksud biasanya digunakan untuk memonitor kondisi mesin apakah masih beroperasi pada keadaan aman atau tidak, jika terjadi vibrasi maka bisa terdeteksi lebih awal sebelum mesin mengalami breakdown atau rusak total. Biasanya hasil dari COMO adalah berupa rekomendasi seperti, mengganti bearing/bantalah/lager/laher/klaker/klager atau apa istilah pasarannya, juga bisa berupa re-allignment, penggantial minyak pelumas, pengencangan mounting dan lain-lain.

      Mohon maaf kalau saya kurang bisa diajak diskusi lebih jauh mengenai masalah ini, karena terus terang saja, sayapun masih sangat awam.

      PS:
      Semoga blognya cepat terlaksana sehingga bisa menambah bahan bacaan penambah wawasan kita semua.
      Aamiin, semoga kita bisa bekerja sama.

      Salam,
      TeknisiInstrument

  30. pramesta

    assalamualaikum kang ade..

    kirain blognya siapa, ternyata temen lulus satu angkatan kemarin.
    mau tanya, SOP untuk kalibrasi coriolis flowmeter for foundation fieldbus communicatin gimana.

    salam,
    pramesta

  31. m nurman fauzy

    Assalamu’alaykum kang. Salam kenal kang. Saya mau bertanya prinsip kerja relay pneumatic pada transducer. Terimakasih kang. Saya masih belajar saya adik kelas akang di jurusan Instrumentasi Industri kontrol proses stm pembangunan

    1. TeknisiInstrument Post author

      Wa ‘alaikum salam wrwb.
      Seingat saya, dulu, di sekolah ada relay, lengkap dengan manual book-nya 🙂
      Coba baca dulu manualnya 🙂
      Pinsipnya sepertinya begini:
      Anggap saja relay pada I/P converter.
      1. Sinyal arus dihubungkan dengan coil.
      2. Pada coil ada inti, yang dihubungkan dengan konstruksi flapper/nozzle.
      3. Jika sinyal arus naik, flapper akan mendekati nozzle (atau sebaliknya, tergantung konstruksi).
      4. Saat flapper mendekati nozzle, maka output sinyal pneumatic akan naik.

      Salam,
      TeknisiInstrument

  32. ilham

    assalamu alaikum
    salam kenal….
    sy ilham
    mau nanya mengenai control valve yg menggunakan motor…
    kalau ada masalah hunting pembukaannya kira2 penyebabnya apa ya…
    di plant kami menggunakan control valve electric actuator merek YangZhou tipe 2SA
    kebetulan manual booknya tidak ada…jadi sy agak bingung troubleshootingnya..
    mohon bantuanya…..

    1. TeknisiInstrument Post author

      Wa ‘alaikum salam wrwb.
      Salam kenal kembali kang Ilham.
      Apakah control valve tersebut dilengkapi dengan positioner? Jika ya, coba periksa nilai amplification gain (atau istilah sejenisnya), mungkin ketinggia, coba turunkan sedikit demi sedikit.

      Salam,
      TeknisiInstrument

  33. Baharuddin46

    Salam kenal ni kang mau nanyani kan cara nyambung wering kabelnya. untuk kalibrasi transmiter preser 0-400 hardcom’mA’power suply24Vdc tlg bantuannya kan terimakasih

    1. TeknisiInstrument Post author

      Pak Baharuddin,
      Salam kenal kembali.
      Itu tergantung dari jenis transmitter-nya, apakah 2-wire, 3-wire atau 4-wire. Sebaiknya mengacu pada buku manualnya.

      Jika dikalibrasi dilapangan, maka tidak perlu mengubah wiring pada loopnya, langsung saja konek HART com pada terminal yang disediakan pada transmitter-nya. Jangan lupa mode controlnya dibuat manual dulu sebelum kalibrasi jika process sedang berjalan.

      Jika dikalibrasi di workshop (asumsi 2-wire):
      1. Konek power supply + ke terminal + di transmitter
      2. Konek power supply – ke terminal – di transmitter
      3. (Jika di manual disebutkan) pasang resistor 250 ohm seri dengan transmitter.
      4. Nyalakan power supply.
      5. Konek hart com pada terminal yang disediakan di transmitter (biasanya gabung dengan terminal + dan – /sinyal)

      Salam,
      TeknisiInstrument

    1. TeknisiInstrument Post author

      Salam kenal Pak Clinton Sihombing.
      Maaf juga sebelumnya, penjelasan apakah yang dimaksud?
      apakah fungsinya? Spesifikasinya? atau apanya?

      Salam,
      TeknisiInstrument

  34. Clinton Sihombing

    Iya pak, penjelasan lengkapnya termasuk fungsi dan spesifikasi sight glass

    1. TeknisiInstrument Post author

      Pak Clinton Sihombing,
      Menurut TeknisiInstrument, sight glass hanya berupa kolom kaca yang bisa menampilkan cairan yang ada di dalamnya, umumnya dipasang paralel dengan vessel, bejana, tangki dimana level yang ada di dalamnya dimonitor/ditampilkan sehingga operator bisa melihat level secara visual. Untuk bejana bertekanan, sight glass yang dipasang harus memiliki spesifikasi teknis yang sesuai, seperti tekanan kerja, temperature kerja dan lain-lain.
      Berikut ini salah satu produk sight glass, silakan download salah satu spesifikasi produknya, sebagai bahan referensi. http://penberthy.pentair.com/

      TeknisiInstrument tidak bermaksud mengiklankan peroduk yang berada di dalam link tersebut, ditampilkan hanya sebagai referensi.

      Salam,
      TeknisiInstrument

  35. Argo dahono

    Salam kenal kang.
    Saya kemarin habis hydrotest pipa menggunakan barthon chart.pada alat barton tersebut da 2 pena yg berwarna biru dan merah. Pada penjelasan yg saya baca di rtikel2. Pena merah menunjukkan DP (differential pressure) dan ketika saya tanyakan pada orang dilapangan yang sering melakukan pengujian menggunakan barton chart, mereka bilang itu menunjukan indikator temperature. Ketika saya minta penjelasan lebih lanjut malah dijawab “pokoknya itu indikator temperature” tanpa da alasan yg didukung dengan angka pada chart barton tersebut.

    Saya mohon bantuanya kang,
    Terimakasih sebelumya

    Salam,
    Argo dahono

    1. TeknisiInstrument Post author

      Kang Argo Dahono,
      Salam kenal kembali. 🙂
      Apakah sudah dilihat di dalam manual book-nya?
      Biasanya setiap pen memiliki identitas, kalau masalah warna, umumnya bisa dipindah-pindah atau diganti-ganti.
      Barton tipe apakah yang digunakan? Mungkin TeknisiInstrument bisa membantu mencarikan manual dan mengidentifikasi pen-pen yang terpasang.

      Salam,
      TeknisiInstrument

  36. lea

    Salam Kenal Pak,

    saya sedang belajar untuk cara mengukur perubahan volume cairan dari tanki tertutup. Setelah cari2 info, sepertinya yang paling pas adalah menggunakan Instrument Differential Pressure. Yang mau saya tanyakan adalah bila perubahan volume nya sangat kecil, instrumen DP dengan kapasitas yang mana yang cocok?

    Terima kasih,
    Lea

    1. TeknisiInstrument Post author

      Mbak/Mas Lea,
      Salam kenal kembali.

      Pada pengaplikasian differential pressure transmitter sebagai level transmitter, parameter yang dideteksi adalah ketinggian zat cair, level transmitter jenis differential pressure bekerja berdasarkan prinsip tekanan hidrostatis. Cara mengukur level/ketinggian permukaan zat cair dengan metoda pengukuran pressure/tekanan, bisa dilihat di link berikut:

      https://www.teknisiinstrument.com/2009/08/03/mengukur-level-dengan-pressure/

      https://www.teknisiinstrument.com/2009/08/06/menentukan-range-differential-pressure-transmitter-untuk-mengukur-level/

      Jika luas penampang tangki diketahui, kemudian dikalikan dengan ketinggian/level hasil pengukuran differential pressure transmitter tadi, sehingga kita bisa mengetahui volumenya.

      Jadi, selama differential pressure transmitter-nya masih dapat mendeteksi perubahan tekanan hidrosatatik dari cairan dalam tangki, maka sekecil apapun perubahan volume, kita akan bisa mengetahuinya.

      Oh ya, apakah tangki tertutup tersebut bertekanan? Jika ya, silakan diperhatikan tekanan kerja dari differential pressure transmitter yang dipakai.

      Semga membantu,
      Salam,
      TeknisiInstrument

      1. lea

        Terima kasih banyak Pak untuk penjelasannya.

        Bolehkah diarahkan spesifikasi untuk alat DP yg cocok bila perubahan yang ingin dicapai dalam satuan mm? Maksud saya bila tinggi awal adalah 50cm lalu perubahan volume yang terjadi sangat kecil, misal berubah menjadi 49.5 cm (berubah 5 mm).
        Iya benar Pak, tanki nya tertutup dan bertekanan.

        Mohon pencerahannya.

        Terima kasih,
        Salam,
        Lea (Pak) 🙂

        1. TeknisiInstrument Post author

          Pak Lea,
          1. Berapa centimeter kah ketinggian zat cair maksimum yang akan diukur?
          2. Berapa tekanan kerja tangki tersebut?
          3. Cairan apa yang akan diukur level-nya tersebut, dan/atau berapa masa jenis (atau specific gravity)-nya?

          Dari data di atas, kita bisa menentukan spek transmitter yang diperlukan.

          Data lain yang mungkin diperlukan adalah temperature cairan tersebut. serta sifat-sifat fisis dan kimiawi cairan tersebut, seperti apakah pada tekanan dan temperatur kerjanya bisa menguap, apakah bersifat korosif, dll.

          salam,
          TeknisiInstrument

  37. bowo

    Assalamualaikum ….
    Apa kabar mas…
    Saya mau menanyakan masalah kaibrasi untuk differential pressure transmitter:
    1. Tolong saya dijelaskan mengenai INput pressure dengan tertera : 0% ( 4mA ),6% ( 8mA ), 25%( 12mA ),56%( 16mA),100% ( 20mA )
    2.Cara menghitung Deviation Up dan Down ( dalam % )
    ex : Input: 25%; Output : Up=12.0024 mA; Down= 11.9980mA
    Deviation (% ) : Up = 0.0152%
    Down= -0.0127%
    Terima kasih mas

    1. TeknisiInstrument Post author

      Wa ‘alaikum salam wrwb.
      Salam kenal Pak Bowo.
      Saya coba menjawab, tapi mohon maaf jika jawabannya kurang pas 🙂

      Nomor 1:
      Kalau dilihat dari data yang diberikan, sepertinya itu adalah differential pressure transmitter untuk flow yang sudah di-squareroot-kan.
      Untuk menghitung output dari dp transmitter dengan square root adalah:

      output mA = ((akar(x%)/akar(100%)) * (20-4) ) + 4)
      output mA = ((akar(x%)/akar(100%)) * 16 ) + 4)
      output mA = ((akar(x%)/10) * 16 ) + 4)

      Misal dengan data yang diberikan di atas:

      6%(8mA)
      ouput mA = ((akar(x%)/10) * 16 ) + 4)
      ouput mA = ((akar(6)/10) * 16 ) + 4)
      ouput mA = ((2.449489742783178/10) * 16 ) + 4)
      ouput mA = ((0.2449489742783178 * 16 ) + 4)
      ouput mA = (3.919183588453085 + 4)
      ouput mA = 7.919183588453085 mA
      dibulatkan menjadi 8mA

      25%(12mA)
      ouput mA = ((akar(x%)/10) * 16 ) + 4)
      ouput mA = ((akar(25)/10) * 16 ) + 4)
      ouput mA = ((5/10) * 16 ) + 4)
      ouput mA = ((0.5 * 16 ) + 4)
      ouput mA = (8 + 4)
      ouput mA = 12 mA

      Contoh yang lainnya, silakan coba hitung sendiri.

      Nomor 2:
      Istilah “deviation” yang Pak Bowo kemukakan, biasanya saya mengenalnya dengan instilah “calibration error”. Cara menghitungnya adalah:

      Calibration error % = (a – b)/span * 100
      dimana:
      a = sinyal hasil pengukuran (test)
      b = sinyal seharusnya (ideal)
      span = output max – output min –> 20-4=16

      Misalnya untuk contoh dari Pak Bowo di atas:
      Input: 25%; Output : Up=12.0024 mA; Down= 11.9980mA
      Pada input 25%, transmitter idealnya mengeluarkan sinyal 12mA (b=12mA)

      Up-Test calibration error:
      Calibration error (%) = (a – b)/span * 100
      Calibration error (%) = (12.0024 – 12)/16 * 100
      Calibration error (%) = 0.0024/16 * 100
      Calibration error (%) = 0.00015 * 100
      Calibration error (%) = 0.015%

      Down-Test calibration error:
      Calibration error (%) = (a – b)/span * 100
      Calibration error (%) = (11.998 – 12)/16 * 100
      Calibration error (%) = -0.002/16 * 100
      Calibration error (%) = -0.000125 * 100
      Calibration error (%) = -0.0125%

      Mungkin itu yang bisa saya jawab. Mohon maaf jika tidak pas.

      Oh ya, data yang Pak Bowo berikan itu dapat dari mana ya? Apakah printout calibration report dari calibrator, atau murni pemisalan?

      Salam,
      TeknisiInstrument

  38. lea

    Terima kasih Pak,
    u tuk ketinggian cairan maksimum 60 cm, ini adalah tinggi maksimum dari tanki juga. sedangkan tekanan yang bekerja mulai dari 0-500 kPa (5 kg/cm2). Cairan yang aka diukur adalah air biasa dgn nilai spesific gravity adalah 1 dengan kondisi suhu adalah normal.

    Terima kasih sebelumnya Pak untuk jawabannya.

    Salam,
    Lea

  39. Doni

    Ada tutorial bahasa pemrograman PLC mas

  40. @Latuheru

    Selamat pagi semuanya.
    salam kenal.

    saya ingin tanya bbrapa hal tentang control valve dan menanyakan tentang android hart communicator.

    1. apa solusi untuk control valve yang tidak bisa di remote dari control room ??
    2. apa bisaa kita service safety valve regulator yang bocor pada Level Valve ??
    3. apa android hart communicator efektive untuk mengganti hartcom 475 ?? apakah ada yang sudah menggunakannya dan dimana di indonesia bisa kita membeli bloetooth modem nya ???
    terima kasih.

    1. TeknisiInstrument Post author

      Pak Latuheru,
      Salam kenal.

      1. apa solusi untuk control valve yang tidak bisa di remote dari control room ??

      –> Apakah sudah dicoba untuk di-loop check dengan mensimulasikan sinyal dari current injector?. Atau apakah “di-remote” yang dimaksud adalah mengoperaikan (buka/tutup) control valvel secara manual dari DCS/HMI? Jika ya, mungkin loop control nya masih dalam keadaan auto, coba di-manual-kan dulu, tapi diskusikan dulu dengan panel operator agar plant tidak shutdown 🙂 . Atau mungkin ada interlock dalam program/logic-nya.

      2. apa bisaa kita service safety valve regulator yang bocor pada Level Valve ??

      –> Mohon maaf, saya tidak mengerti pertanyaannya, apakah yang dimaksud safety valve adalah PSV/PRV (Pressure Safety Valve/Relief Valve)?

      3. apa android hart communicator efektive untuk mengganti hartcom 475 ?? apakah ada yang sudah menggunakannya dan dimana di indonesia bisa kita membeli bloetooth modem nya ???

      –> Yang ini juga mohon maaf hehe. Saya belum pernah menggunakannya.

      Salam,
      TeknisiInstrument

  41. Animator Sekansoz

    pak saya mau tanya cara kalibrasi pressure transmitter mengunakan fluke 744 gmna y pak…. kendala di lapangan ketika kabel saya tancapkan di pressure transmitter kemudian saya tekan hart trus saya masukan 4mA data yang ditrima dalam satuan bar itu fluktuatif/berubah-ubah tidak stabil…..trims…..

    kalo bole saya minta no yg bisa di hubungi….

    1. TeknisiInstrument Post author

      Pak/Bu Animator Sekansoz,
      Terus terang saya belum pernah menggunakan Fluke 744, TeknisiInstrument biasanya menggunakan Hart Communicator 275, 375 dan 475 untuk melakukan kalibrasi.
      Detail cara penggunaan Fluke 744 mungkin bisa dipelajari pada manualnya, bisa dilihat di link berikut:

      http://www.icsgroup.ru/upload/iblock/ee3/744_____umeng0100.pdf
      http://www.tequipment.net/assets/1/26/Documents/Fluke/744-hart_usersguide.pdf

      Mengenai sinyal keluaran (output) transmitter yang fluktuatif, coba cari menu “dumping time” pada hart parameternya, dengan menaikkan damping time biasanya bisa menanggulangi sinyal yang fluktuatif.
      Apakah saat pressure transmitter di-inject tekanan, katakan saja 50%, apakah outputnya juga fluktuatif, atau hanya fluktuatif saat disimulasikan oleh fluke 744?

      Coba cari menu “loopt test/check”, dan lakukan loop check sesuai panduan. Paduannya bisa dilihat di link kedua di atas, lihat halaman 16.

      Mohon maaf tidak bisa membantu banyak.

      Oh ya, untuk silaturahmi, bisa melalui email ade(dot)ahmat(at)gmail(dot)com

      Salam,
      TeknisiInstrument

  42. isa anshori

    assalamualaikum wr.wb
    perkenalkan saya isa, saya punya pertanyaan. saya sedang PKL di salah satu perusahaan dan saya membahas tentang level transmitter. saya diberi pertanyaan oleh pembimbing saya tentang leg transmitter. kan ketinggian transmitter berpengaruh terhadap kalibrasi nanti, jadi pertanyaanya bagaimana kalau leg/tube yg menuju tersebut berkelok-kelok sehingga panjang tube berbeda dengan ketinggiannya, apakah akan berpengaruh terhadap perhitungan?
    terimakasih
    wassalamualaikum wr.wb.

    1. TeknisiInstrument Post author

      Wa’alaikum salam wr.wb.
      Mas/Kang Isa Anshori, salam kenal.
      Menurut TeknisiInstrument, selama kelokan dan panjang dari leg/tube tidak menambah/melebihi rentang tinggi/ketinggian liquid yang diukur, serta tidak menutupi/menghambat liquid/cairan yang berada di dalam leg/tube tersebut, maka panjang dan kelokan leg/tube tidak berpengaruh terhadap pengukuran ketinggian.

      TeknisiInstrument pernah menulisa artikel mengenai pengukuran level, silakan buka link berikut:
      https://www.teknisiinstrument.com/2009/08/03/mengukur-level-dengan-pressure/
      https://www.teknisiinstrument.com/2009/08/06/menentukan-range-differential-pressure-transmitter-untuk-mengukur-level/
      https://www.teknisiinstrument.com/2010/04/15/dry-leg-dan-wet-leg-pada-level-transmitter/

      https://www.teknisiinstrument.com/2011/01/03/mengkalibrasi-level-transmitter-dengan-remote-seal-bagian-1-pendahuluan/
      https://www.teknisiinstrument.com/2011/01/04/mengkalibrasi-level-transmitter-dengan-remote-seal-bagian-2-suppressed-zero/
      https://www.teknisiinstrument.com/2011/03/24/mengkalibrasi-level-transmitter-sistem-satu-seal-bagian-3-elevated-zero/
      https://www.teknisiinstrument.com/2011/03/27/mengkalibrasi-level-transmitter-sistem-dua-seal-bagian-4-tamat-elevated-zero/

      Salam,
      TeknisiInstrument

      1. isa anshori

        terimakasih atas jawabannya TeknisiInstrument
        saya sudah baca semua artikelnya dan sangat bermanfaat bagi saya sebagai referensi untuk laporan saya
        berarti untuk pengukuran level panjang tube transmitter tidak berpengaruh ya? yg terpenting ketinggian tube tersebut dari transmitter (mohon koreksi jika salah)
        terimakasih sebelumnya

  43. Sanif Syafrani

    Assalamualaikum, salam kenal. nama saya sanif syafrani mahasiswa T.Fisika salah satu PTN, Mengenai pengukuran level menggunankan DP transmitter ada dua pertanyaan yang hendak saya tanyakan:
    1. Dalam perhitungan range DP transmitter, mengapa satuan tekanan adalah mmH2O, ?padahal setau saya dalam perkuliahan tekanan itu satuanya pascal, bar, psi. Bukanya “mm” itu satuan panjang?
    2. Dalm perhitungan range DP transmitter menggunakan rumus ” press = SG x Ketinggian” , kenapa sering SG gas diabaikan?.. sering mencarai refrensi bahwa SG ciran lebih kecil dari SG gas (ex: liquid propylen = 0,445 dan gas etan = 1,05 ). menurut logika, SG lebih besar akan berada dibawah SG yang lebih kecil,?

    terimakasih, Wassalamualaikum

    1. TeknisiInstrument Post author

      Wa ‘alaikum salam wrwb.
      Salam kenal kembali Mas Sanif Syafrani.
      Pertanyaan yang bagus sekali 🙂
      Saya TeknisiInstrument akan mencoba menjawab dengan gaya teknisi, mungkin bukan bahasa dengan gaya mahasiswa hehe. Jadi sebelumnya mohon maaf jika kurang pas.

      1. Dalam perhitungan range DP transmitter, mengapa satuan tekanan adalah mmH2O, ?padahal setau saya dalam perkuliahan tekanan itu satuanya pascal, bar, psi. Bukanya “mm” itu satuan panjang?

      → Seperti kita ketahui, cairan di dalam sebuah bejana akan memiliki tekanan hidrostatik yang besarnya berbanding lurus dengan ketinggiannya (P=ρ•g•h), dimana:
      P = Pressure (tekanan)
      ρ = masa jenis dari cairan, kg/m³
      g = gravity) gaya gravitasi bumi, m/s²
      h = height (ketinggian cairan di dalam bejana), m
      P = kg/m³ • m/s² • m
      P = kgm/s² • m/m³
      P= kgm/s² • 1/m²
      P = Newton • 1/m² = N/m² = Force/Area (Gaya/Luas)
      P = F/A

      Dari persamaan di atas, ρ dan g selalu konstan (dengan anggapan cairannya homogen, tidak berubah masa jenisnya). Sedangkan h merupakan variable yang berbanding lurus dengan tekanan P.

      Asal mula mengapa satuan tekanan mmH2O, berawal dari penggunaan SG (Specific Gravity) dalam perhitungannya. Dimana SG merupakan rasio antara Masa Jenis cairan dengan masa jenis cairan referensi, umumnya yang menjadi referensi adalah masa jenis benda yang memiliki fasa yang sama, misalnya cairan dengan cairan. Untuk cairan umumnya digunakan air pada tekanan dan temperatur atmosfer sebagai referensi (1000 kg/m³ atau 1 g/cm³).

      Misalnya ada bejana berisi air dengan ketinggian 1m (1000mm), maka tekanan hidrostatiknya adalah (kita sepakati ρ = 1000 kg/m³ dan g = 9,8m/s²):

      P=ρ•g•h
      P = 1000 kg/m³ • 9,8 m/s² • 1 m
      P = 9800

      Kemudian kita juga bisa menyatakan tekanan tersebut dalam satuan mH2O, cmH2O atau mmH2O:

      P = SG • h
      P = {(1000 kg/m³) / (1000 kg/m³)} • 1 m
      maka:
      P = 1 mH2O atau 100 cmH2O atau 1000 mmH2O

      Dalam satuan mmH2O, H2O merupakan warisan dari rasio masa jenis cairan terhadap masa jenis air.

      Contoh lain, misalnya sebuah bejana berisi kondensat hidrokarbon dengan masa jenis 800kg/m³.

      SG= (800kg/m³) / (1000kg/m³) = 0,8 (SG tidak memiliki satuan atau dimensionless).
      Maka tekanannya adalah:
      P = SG • h
      P = 0,8 • 1
      P = 0,8 mH2O atau 80 cm H2O atau 800 mmH2O
      Lagi-lagi H2O dibawa sebagai satuan karena merupakan warisan dari SG, dimana air (H2O) yang dijadikan sebagai referensi.

      2. Dalm perhitungan range DP transmitter menggunakan rumus ” press = SG x Ketinggian” , kenapa sering SG gas diabaikan?.. sering mencarai refrensi bahwa SG ciran lebih kecil dari SG gas (ex: liquid propylen = 0,445 dan gas etan = 1,05 ). menurut logika, SG lebih besar akan berada dibawah SG yang lebih kecil,?

      → Mengapa SG gas diabaikan? Mungkin bukan diabaikan, tapi “tidak digunakan”, seperti dituliskan di atas, bahwa untuk menghitung SG, material yang dijadikan referensi harus memiliki fasa yang sama, yaitu cairan dengan cairan, dan gas dengan gas, untuk gas, umumnya digunakan udara sebagai refernsi dalam menghitung SG.
      Mengapa SG gas tidak digunakan dalam menghitung pressure (P=SG x ketinggian), jawaban sederhananya adalah, karena gas tidak memiliki tekanan hidrostatik, dan gas berbeda bentuk dengan cairan 🙂

      Mohon maaf jika jawabannya ngelantur, maklum hanya teknisi 🙂

      salam,
      TeknisiInstrument

      Catatan:
      Angka-angka di atas hanya contoh, sangat mungkin salah hitung dan komentar ini tidak dibaca ulang saat mengetiknya, jadi banyak kemungknan salah ketik, salah frase dan lain, lain, jika ditemukan kekeliruan, mohon koreksinya.

  44. Sanif Syafrani

    Terimakasih banyak Pak atas jawabanya,.Secara keseluruhan sudah bisa menjawab pak. Mungkin bapak bersedia memberikan jawaban kembali terkait rumus “press=SGxH”, rumus tersebut didapat dari mana pak?, . apakah juga berasal dari prinsip hidrostatik.

    1. TeknisiInstrument Post author

      Mas Sanif Syafrani,
      Kembali kasih.
      Sebetulnya sudah terjawab di atas, walaupun mungkin tidak gamblang :).
      Kalau jawaban eksak, terus terang saya tidak punya jawaban :P.
      Namun ini pendapat TeknisiInstrument saja, penggunaan SG dalam rumus P=SG•h, berawal dari rumus tekanan hidrostatik, P=ρ•g•h, karena kita menggunakan specific gravity, bukan masa jenis, sehingga nilai g yang selalu konstan tidak dipakai, dan karena untuk memudahkan saja.
      Dan untuk praktik di lapangan, penggunaan rumus P=SG•h, akan lebih mudah dibayangkan dan digunakan terutama pada saat pengukuran level, daripada menggunakan rumus P=ρ•g•h.

      Misalnya begini, kalau ada temuan di lapangan, ada tangki berisi solar (diesel oil) dengan masa jenis 800kg/m³, setinggi 4 meter, berapa Pascal tekanan hidrostatiknya? Maka kalau saya akan menghitung dulu, dan hitungannya menganding 3 variabel: ρ, g dan h hehe.
      Tapi kalau pertanyaannya, berapa mmH2O? Maka jawabannya lebih sederhana, P=0,8*4= 3,2 mH20 atau 320 cmH2O atau 3200 mm H2O.

      Mohon maaf jika jawabannya ngelantur.

      Salam,
      TeknisiInstrument

  45. rina hania

    assalamualaikum pak..
    nama saya rina hania, ingin menanyakan tentang latar belakang standarisasi sinyal 3-15 psi
    kenapa harus dimulai dari 3, tidak dari nol?
    kebetulan pak saya juga anak kontrol proses, tadi saya baca tentang biodata bapak, ternyata bapak adalah alumni dari jurusan kontrol proses juga
    salam kenal yaa pak 🙂

    1. TeknisiInstrument Post author

      Wa ‘alaikum salam wr.wrb.
      Teh Rina Hania, Salam kenal.
      Pernah ada pertanyaan sejenis, silakan buka link berikut:
      https://www.teknisiinstrument.com/pernyataan/#comment-255

      Oh ya, seingat saya, dulu dalam pelajaran PBP (masih ada nggak ya sekarang pelajaran itu :)), disitu dijelaskan asal mula sinyal 3-15psi.

      Mengapa sinyal 0%-nya 3psi? Salah satunya adalah untuk mendapatkan “live Zero” yaitu sinyal nol yang memiliki nilai (yaitu 3 psi, bukan 0psi). Bertujuan untuk mendapatkan informasi atau tanda-tanda jika system sedang “live”. Misalnya kalau didapat sinyal 2psi, berarti ada masalah, Nah, jika 0%-nya 0psi, maka kita tidak bisa membedakan mana sinyal 0%, mana keadaan kehilangan sinyal, atau loss of signal.
      Sama halnya dengan sinyal 4-20mA, diambil 4mA untuk tujuan “live zero”.

      Alasan lain mengapa diambil 3-15psi adalah, sebagaimana kita ketahui, peralatan instrument yang menggunakan sinyal pneumatik, umumnya menggunakan pneumatic relay, dimana pneumatic relay tersebut umumnya bekerja berdasarkan dua komponen, plaffer dan nozzle, pergerakan flapper terhadap nozzle (atau sebaliknya, tergantung desain) inilah yang menyebabkan perubahan output dari peralatan instrument pneumatic. Nah, menurut yang pernah TeknisiInstrument baca, pergerakan flapper-nozzle ini hanya beberapa milimeter saja, dan dari pergerakan flapper-nozzle ini, didapatkan sinyal yang tidak linear (histerisis) pada output relay di bawah 3 psi dan di atas 15 psi.

      Mohon maaf jika tidak memuaskan.

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Catatan:
      Komentar ini tidak dibaca ulang saat mengetiknya, jadi sangat mungkin terjadi kesalahan pengetikan, kesalahan frase, dan penggunaan kalimat/kata yang kurang tepat sehingga berpotensi membelokkan maksudnya. Jadi mohon maaf 🙂

  46. Pingback: Kalibrasi Differential Pressure Transmitter yang Di-Squareroot-kan | Teknisi Instrument

  47. Iskandar unin

    Salam kenal kang

    Saya ingin bertanya mengenai penempatan titik control PCV pada separator.
    dan yang saya ingin tanyakan apakah penempatanya di down stream danil atau di ip stream danil. mohon pencerahannya terima kasih

    salam
    Iskandar

    1. TeknisiInstrument Post author

      Kang Iskandar Unin,
      Salam kenal.
      Mohon maaf, saya tidak paham pertanyaannya. Danil yang dimaksud itu apa ya? Apakah maksudnya alat merk Daniel? Apa nama alatnya? Apakah transmitter, analiser atau apa?

      Salam,
      TeknisiInstrument

  48. muhammad andi wahyudi

    salam kenal kang 🙂 saya andi kang dari smkn1cimahi jurusan kp angkatan 39. baru beres prakerin lagi sibuk buat laporan ini teh kang euy mohon dibantu ya kang. gempeur euy mau sidang bentar lagi ari materi acan sadayana 🙁
    bade naros tentang kalibrasi displacer transmitter e3 magnetrol kang gimana ya?
    terus kang mengenai LVDT (linear variable differential transmitter) yang ada di dalem transmitter nya teh aku kurang paham kang. boleh bisa dijelasin ga kang buat LVDT nya itu kenapa bisa si pelampung itu bisa jadi 4-20mA?
    hatur nuhun kang punten pisan aduh.

  49. frelynr

    Selamat sore salam kenal pak.
    perkenalkan saya frely mhs teknik fisika. rencananya saya akan kerja praktek dan mengambil judul tentang analisa penyebab hunting pada valve. Tapi saya belum paham betul sebenarnya hunting itu seperti apa. Jika berkenan mohon dijelaskan pak soal hunting itu apa dan kenapa bisa terjadi di valve.

    Terimakasih pak

    1. teknisiinstrument Post author

      Selamat malam Mbak Frelynr,
      Salam kenal kembali.
      “Hunting” di dunia instrumentasi adalah istilan untuk sinyal yang naik-turun atau tidak stabil. Karena control valve bekerja berdasarkan sinyal, jika sinyal yang diterima naik/turun maka aksi dari control valve juga akan buka/tutup tidak stabil. Tetapi, untuk control valve jaman sekarang yang sudah dilengkapi dengan smart positioner, walaupun sinyal dari controller stabil, bisa saja control valve akan hunting atau gonjang ganjing atau buka tutup tidak stabil jika positioner-nya tidak dikonfigurasi dengan baik. Pada smart positioner juga ada semacam builtin controller untuk memposisikan valve sesuai perintah, dan harus di-tuning dengan memasang gain yang cocok. Saran TeknisiInstrument, coba cari manual salah satu merk control valve, kemudian pelajari. Biasanya dijelaskan gejala hunting dan cara pebanggulangannya.

      Salam,
      TeknisiInstrument

Comments are closed.