Apakah Bypass, Inhibit, Force, Override itu?

By | 27 April 2017

Pernahkah Anda mendengar istilah bypass, inhibit, force, override? Jika perawatan atau maintenance yang diterapkan pada sebuah pabrik atau plant berupa perawatan pencegahan atau preventive maintenance, ada kalanya kita harus melakukan perawatan pada sistem yang sedang online atau istilahnya live process, dimana pabrik tidak mati. Dan adakalanya juga kita harus melakukan perawatan korektif atau corrective maintenance pada sistem yang sedang online atau live process. Contohnya dalam kalibrasi pada pressure transmitter, kita akan memberikan tekanan simulasi dari hand pump ke pressure transmitter bersangkutan. Nilai tekanan umumnya dari 0% sampai 100%, masalahnya, jika transmitter tersebut berhubungan dengan shutdown atau alarm system, maka process akan shutdown saat disimulasi tekanan jika effek dari transmitter bersangkutan tidak override. Ada istilah lain untuk menamai override, yaitu bypass, inhibit, force dan override agar peralatan instrument bisa diperbaiki saat proses sedang online atau live process. Apakah perbedaan dari keempat istilah tersebut?

Mem-bypass sebuah switch

Mem-bypass sebuah switch

Berikut perbedaan istilah bypass, inhibit, force, override yang biasa dipakai saat melakukan perawatan peralatan instrumentasi.

BYPASS:

Segala bentuk modifikasi baik software maupun hardware yang jika dilakukan akan meniadakan kemampuan sebuah peralatan untuk bekerja sebagaimana mestinya yang bisa mempengaruhi faktor safety dari sebuah alat.
Contoh: Force I/O pada software DCS/PLC, jumper pada terminal kabel pada control panel, Melepas sumber tekanan udara pada SDV, dll

INHIBIT:

Mencegah atau mematikan fungsi dari sensor atau output dari sebuah sistem baik secara software maupun hardware tetapi tidak menghilangkan fungsi pengukuran dari alat yang bersangkutan.
Contoh: Inhibit pada gas detector saat maintenance, Mematikan flame detector karena mengalami kerusakan.

FORCE:

Merupakan salah satu fitur dalam software untuk sistem kendali yang memanipulasi nilai atau status dari sebuah tag/register/bit agar tetap memiliki status/nilai tertentu, tidak peduli apapun kondisi logic yang sebenarnya. Force bisa merupakan bypass karena bisa mematikan fungsi deteksi sebuah peralatan/sensor/aktuator, sehingga bisa mencegah sistem dari shutdown.
Contoh: Sebuah SDV digerakkan oleh digital output dari sebuah controller, jika digital output-nya tersebut di-force high (ON), maka kalaupun terjadi shutdown, SDV tersebut akan tetap high (ON) atau valve-nya terbuka.

OVERRIDE:

Mengubah/mengganti respon output dari sebuah sensor atau sistem baik secara software maupun hardware. Mirip Force, hanya saja override tidak menghilangkan kemampuan deteksi dari sebuah sensor/sistem, hanya respon output-nya saja yang di”mandul”kan
Contoh: Sebuah level transmitter yang di-override, akan tetap mendeteksi level, tapi jika settingan alarm tercapai, tidak ada respon/aksi output terhadap sistem selanjutnya.

Apapun penamaannya, tujuannya tetap sama agar process tidak shutdown atau trip saat melakukan perwawatan pada sistem instrumentasi atau otomasi. Demikian semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*