Corrective Maintenance (Perawatan Korektif)

By | 2 Desember 2011

Tulisan ini disadur dari posting Pak Eddy Nirwana dalam akun Facebook-nya yang beliau posting dalam group Keluarga Besar Instrumentasi Industri, dengan ijin yang diberikan, telah mengalami penyuntingan seperlunya. Jadi all credits should go to him.

Perawatan korektif atau Corrective Maintenance (selanjutnya akan disebut “CM” dalam tulisan ini) merupakan tindakan perawatan untuk mengembalikan fungsi sebuah peralatan produksi yang mengalami kerusakan, baik ringan, sedang maupun parah, agar bisa melakukan fungsinya dalam mendukung proses produksi dalam sebuah plant atau pabrik. CM juga ada yang menyebutnya dengan istilah repair atau service. Pengertian versi wikipedia bisa diklik di sini.  Dalam dunia instrumentasi, contoh CM adalah pembersihan bore control valve karena tersumbat (plugging) dan lain-lain.

Contoh CM di rumah adalah   jika mesin pompa air kita bocor, maka kita usahakan untuk menambalnya sebisa kita, misalnya dengan liquid gasket.

CM di plant/pabrik ada kalanya berbeda dengan CM untuk peralatan rumah tangga semisal mesin pompa air tadi.

Contoh: Kembali ke contoh di atas, misalnya pompa air kita mengalami kebocoran, maka sebisanya kita menambal kebocoran tersebut, karena kita berpikir itu adalah masalah yang bisa kita atasi tanpa perlu mengganti keseluruhan mesin pompa air. Andai kata kebocoran terjadi lagi, maka kitapun menambalnya kembali. Dan mengganti keseluruhan poma menjadi alternatif terakhir.

Pendekatan seperti contoh di atas adakalanya tidak bis kita terapkan di plant/pabrik dimana kita bekerja, bahkan untuk kasus tertentu, dinyatakan tidak boleh. Karena adanya tuntutan (demand) dan resiko (risk) yang berbeda dengan keadaan di rumah.

Plant memerlukan:

  1. Safety, baik untuk manusia, peralatan maupun lingkungan.
  2. Reliability, yaitu kehandalan yang harus dimiliki oleh peralatan.
  3. Availability, yaitu kesiapan peralatan agar selalu ada dalam keadaan siap pakai.

Berdasarkan keperluan di atas, pada kasus tertentu, perbaikan atau modifikasi terhadap sebuah peralatan tidak boleh dilakukan di plant. Kalaupun dilakukan CM, perbaikan atau modifikasi, maka harus dilakukan oleh vendor yang bersertifikat.

Contohnya adalah Antisurge Control Valve pada aplikasi kompresor, misalnya mengalami kebocoran pada packing set, memang dengan relatif mudah bisa kita (teknisi) lakukan, tetapi melihat pentingnya anti surge control valve baik sebagai fungsi control maupun sebagai fungsi safety, hal itu tidak boleh kita lakukan karena antisurge valve tersebut selain sebagai fungsi capacity control untuk kasus tertentu, juga sebagai fungsi safety untuk melindungi kompresor dari kerusakan mekanis yang lebih parah.

Jadi, walaupun kita bisa memperbaiki antisurge valve tersebut, jika terjadi kegagalan dan mengakibatkan kerusakan mekanis yang parah pada kompresor, bukan penghematan yang kita (perusahaan kita) dapatkan, tetapi perbaikan besar pada kompresor. Selain itu, ada faktor akuntabilitas dari pekerjaan tersebut, karena kita (teknisi) tidak bersertifikat untuk melakukan hal itu, paling tidak dari sudut pandang vendor kompresornya, dan urusannya akan panjang ke isu garansi dan sebagainya.

Pada kasus di atas, penggantian antisurge valve secara keseluruhan lebih diutamakan dan diharuskan dibanding dengan kita memperbaikinya sendiri. Karena penggantian sebuah antisurge valve yang “hanya” beberapa ratus ribu dolar tidak akan sebanding dengan biaya biaya perbaikan kompresor yang beratur-ratus ribu dolar, belum lagi Lost Production Opportunity yang membengkak sampai jutaan dolar.

Akan tetapi, jika kita menghadapi kerusakan pada sistem yang tidak begitu kritikal, boleh saja kita lakukan perbaikan sendiri, semisal mengganti packing set pada control valve tadi, yang diaplikasikan pada sistem yang tidak begitu krusial.

Jadi sebagai teknisi, kita jangan terlalu tergiur dengan kemudahan sebuah pekerjaan. Yang harus kita prioritaskan adalah mengetahui seberaba besar resiko yang akan timbul jika peralatan mengalami malfunction (gagal fungsi) baik dari sisi safety, reliability maupun availability. Sehingga mengganti keseluruhan sebuah peralatan patut dipertimbangkan dibanding dengan memperbaikinya.

16 thoughts on “Corrective Maintenance (Perawatan Korektif)

  1. juare97

    btul mas. Kalau repairnya tidak sesuai dengan keahlian bisa fatal akibatnya.

    tetapi terkadang pekerjaan maintenance ada yang harus kita kerjakan sendiri dengan tim, tidak bisa bergantung sepenuhnya ke vendor. Terkadang panggil vendor blum tentu langsung bisa menyelesaikan masalah. Dan bayarannya muahal sekali. padahal produksi sudah terganggu.

    Kalau kita yakin dengan apa yang kita lakukan, sudah dihitung risknya dan sudah didiskusikan dengan intensif dengan pihak-pihak terkait dan di approve oleh atasan-atasan, insyaAllah kita kerjakan saja. bismillah, semoga lancar … 🙂

    Reply
    1. TeknisiInstrument Post author

      Saya sangat setuju dengan pendapat Pak Juare97, jika semua resiko telah kita perhitungkan dan semua yang berkepentingan dan berwenang sudah menyetujui dengan berbagai pertimbangan (terutama safety untuk manusia, alat dan lingkungan) makan bismillah… hehehe….

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  2. iqbal

    Assalamu’alaykum,
    wah bagus ya artikelnya, kadang saya juga ingin ambil sertifikasi keahlian di bidang instrumentasi. tapi saya baru tahu sedikit dan belum ada dananya juga. hehehe.
    Salam kenal Kang,

    M Iqbal M

    Reply
    1. TeknisiInstrument Post author

      Wa alaikum salam,
      Pak Iqbal, terima kasih.
      Semoga cita2nya segera terlaksana. aamiin…

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  3. yogi km30

    dear kang,

    mohon di share donk mengenai sitem kerja inverter devicenet???

    salam
    yogi
    Bani Instind

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Kang Yogi,
      Sakam kenal.
      Mohon maaf, TeknisiInstrument tidak familiar dengan inverter dimaksud.
      Apakah sudah baca manual booknya?

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  4. Denny

    kang punya prosedur maintenance control valve ga?
    kalo punya boleh di share,
    terimakasih Kang sebelumnya

    Reply
  5. Riza

    Dear Kang teknisiInstrument,

    sangat menarik sekali artikel yang akang tulis.
    kang, terkait dengan maintenance, apakah bisa setelah dilakukan CM dan PM, akan menambah lifetime dari peralatan instrument ya Kang?
    Faktor apa saja ya Kang yang bisa menambah lifetime dari peralatan instrument?misalnya transmiitter.

    Terima kasih banyak Kang.

    Salam,
    Riza

    Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Kang Riza,
      Salam kenal,
      Kurang lebih demikian, CM dan PM dilakukan untuk menjaga peralatan bekerja pada kinerja optimumnya, sehingga secara logika bisa menjaga lifetime sesuai dengan desainnya.

      Faktor-faktor yang bisa menjaga lifetime sesuai dengan desainnya (contoh transmitter):
      – tegangan kerja sesuai dengan spesifikasi.
      – pilih spesifikasi sesuai dengan keperluan misalnya MAWP (Maximum Allowable Working Pressur) untuk pressure transmitter.
      – Jaga kebersihan housing dari karat, karena umumnya yang sering rusak adalah housing yang macet tidak bisa dibuka, keropos dan lapuk, sehingga tidak bisa dilakukan kalibrasi.
      – Pilih spesifikasi teknis yang sesuai dengan lingkungan (misalnya tempat yang panas, bergaram, kelembaban tinggi, dll)
      – Lakukan perawatan berkala sesuai rekomendasi pabrik, atau hasil analisa yang spesifik untuk transmitter bersangkutan.

      Hope this helps.

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
    1. teknisiinstrument Post author

      Kang Uday,
      Salam kenal.
      Mohon maaf, kierarki seperti apa maksudnya?
      Kalau boleh berasumsi mengenai pertanyaan di atas, yang kita lakukan terlebih dahulu adalah Perawatan Preventif (perawatan berkala) karena kita melakukan perawatan tanpa menunggu peralatan rusak terlebih dahulu. Baru kita lakukan perawatan korektif manakala peralatan tersebut bermasalah.

      Salam,
      TeknisiInstrument

      Reply
  6. Pingback: Konsep Dasar Rekayasa Perangkat Lunak (RPL) – Judul Situs

  7. Pingback: apakah bypass, inhibit, force dan override dalam bidang instrumentasi?

  8. bhudy instind

    Trimaksih mas. Bisa dijdikan reference untuk kedepannya…..

    Sangat membantu. Salam dari saya

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*